Gundah

Terpekur bersama seonggok harapan dibalut dengan ketidakpastian
Membaur dengan gundahnya malam yang pekat tiada bertuan
Secercah cahaya yang sempat tercipta kini sirna sudah
Mungkin semesta memang sedang tak ingin
Ajari aku untuk mengerti apa itu naif
Ajari pula aku menyulam topeng dengan jemarimu
Wajah sembab nan ayu tak boleh terlihat
Hanya sejumput kenangan dan sekerat kebahagiaan yang terbungkus dalam guratannya
Terlanjur tersandung dan tak mampu berdiri
Berusaha untuk bangkit, berjalan tertatih, terseok, hingga kembali terhempas
Bisikan lembut menguatkan kembali menghantui, melukis sepotong harapan
Beri aku warna jingga dalam kanvas itu, bukan kelabu atau warna lainnya
Atau kembali goreskan tinta putih agar kembali bersih
Lalu cumbu aku hanya dalam bayang-bayang, berharap suatu saat angin dapat menghapusnya.

Surabaya, Desember 2011 - sakit itu ketika perasaan tak lagi berbalas

3 komentar:

  1. puisinya kereeen :)
    ngena banget di saya--"

    BalasHapus
  2. @Me and They : iyaaaaa :')

    @Emelia Ariska : huaaa, makasih yaaa :*

    BalasHapus