Minggu, 20 Mei 2012

selesai


rinduku kau telanjangi, kau kuliti perlahan-lahan
yang tadinya sempat ku pikir mengapa harus bertahan
kini langkah goyah seakan semuanya tertahan
lihatlah rinduku terikat
pada getar jiwa yang memikat
pada hati yang ingin tergenggam erat
kecup mesra yang terjerat di dahi
olehmu kini kau sudahi

Jumat, 18 Mei 2012


aku kerap berharap suatu hari yang berderap mendekatiku adalah kamu. datang bukan sekedar untuk mendekap atau menguap beberapa kata tentang cinta. tetapi segala tentangku, tentang kita, akan selalu mengendap dalam benakmu.

Rabu, 02 Mei 2012

gerimis yang sederhana


pada gerimis yang sederhanaaku sempat memelukmu erat, bagai anak lelaki gemuk dengan cokelatnya.tak peduli nanti aku akan gemuk akan rindujika suatu saat tak dapat lagi kurengkuh kau dari belakangseperti senja kala itu

pada gerimis yang sederhanakita sempat mempertemukan bibir kitamengawinkan mereka tanpa melingkarkan cincinmembuat candu yang tak akan bisa mengeringhingga nanti kita temukan bibir lain yang lebih passungguh, ironi.

pada gerimis yang sederhanapernah kita lukiskan mimpi dalamm rintiknyauntuk masa depan suatu haridi taman bunga kita tak lagi hanya berduabertambah dua anak kecil lucu yg bergelayut manjadengan bekal dalam kotak rotan 

pada gerimis yang sederhanakita teriakkan kitaaku dan kamu

surabaya, 2011

Selasa, 01 Mei 2012

aku hanya ingin kau pun ikut berlari (lagi), A.

teruntuk A,

terlepas apakah kau akan membaca tulisan ini atu tidak, terlepas apakah kau mengerti apa maksud tulisan ini atau tidak. aku tau A kamu tak pandai merajut kata sepertiku, tak perlu kau mengerti apa makna dan maksud dari sajak-sajak yang telah kusulam, aku tau kau sedang membacanya sudah cukup membuatku senang bukan main. tapi memang tulisan ini hanya buatmu A. 

sampai kapan kamu harus berpura-pura untuk tau apa yang sedang kurasakan, aku lelah berlari A, apakah kau tak ingin berlari bersamaku? mengapa kau bilang kalau posisimu lebih menyenangkan yang sekarang. bukankah kau belum mencoba asyiknya berlari bersamaku, A? Oh, aku nyaris lupa. kita pernah melakukannya dan aku tertinggal. kamu pernah berlari terlalu cepat, A. meninggalkanku. apa itu memang kau sengaja, A? apa begitu?

ah, harusnya aku tau jawabannya sejak awal, A. kamu tak akan pernah membaca tulisan ini. apa aku sia-sia menulis ini semua, A? apa harus aku kirim tulisan ini melalui merpati pos ke dalam kamarmu, A? apa harus? maafkan aku, A. aku terlalu banyak bertanya dan aku terlalu banyak sekali mengeluh. begini A, tanpa harus aku beritahu pun rasanya kamu sudah mengerti bagaimana aku terhadapmu sekarang, A.

aku masih mencintaimu dari awal aku mencintaimu hingga kini mungkin sampai nanti.

kamu tahu arti nanti, A? nanti itu tak ada batasnya. nanti ya nanti. apa berarti nanti itu besok, besok lusa, tahun depan, lima tahun lagi, atau sampai Tuhan merenggut nyawaku. aku tak tahu, A. tapi aku mencintaimu sampai nanti.

apakah kau meraskan hal yang sedang kurasakan, A?

jawabannya memang hanya ada dua, A. tidak dan iya. tapi jika iya, kenapa kamu harus bilang tidak, A? kenapa kamu masih saja memelukku, A? kenapa masih kurasakan detak jantung kita yang beradu waktu kita berpelukan, A? mengapa kita masih saja terbawa suasana, A? kenapa bibir kita masih selalu ingin dipertemukan, A? apa kamu tau jawabannya, A? kamu hanya menggeleng lalu terdiam atas semua pertanyaanku, A. atau kamu mungkin tau kepada siapa aku bisa memperoleh jawaban ini, A?

A, sebenarnya niatanku awal menulis ini bukan menghujani kau dengan semangkuk tanya seperti barusan. terlebih untuk perasaan mengganjal dalam benakku tentang apa yang telah aku lakukan padamu, A. yang katamu membuatmu tidak nyaman, yang katamu membebanimu. harusnya dari awal aku tau, A. tak ada manusia di muka bumi ini yang ingin dipaksa atas kehendak orang lain. tapi aku tak punya niatan memerintahmu waktu itu, A. aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. atau sesuatu yang tak kuinginkan merenggutmu dariku, A. betapa aku posesif waktu itu ya, A. aku ingin sekali menertawai tingkahku, A. bodoh. aku sudah memaafkan kawanmu itu, A. lebih tepatnya kawan kita. memaafkan adalah perkara yang susah, A. tapi aku selalu memaafkan apa yang orang lain perbuat padaku, bahkan sebelum mereka melontarkan maafnya padaku. tapi maaf A, aku orang yang susah melupakan. semoga kamu masih mengingat juga, apa yang telah kalian lakukan, hingga membuat perasaanku tersayat kala itu.

sudah tiga bulan ya, A. tenang, aku baik-baik saja. aku sudah memaksa keluar perasaan aneh itu tapi dia tak mau, A. katanya dia suka berada padaku. tapi kenapa dia tak mau berada padamu, A? itu yang aku heran sampai sekarang.

aku tak perlu jawabanmu A, aku hanya ingin kau pun ikut berlari (lagi) bersamaku, A. maukah kau ?

Surabaya, 2012

Sabtu, 28 April 2012

saya muak.

saya muak terhadap ibu pertiwi, bukan salah ibu pertiwi. bukan juga masalah kandung-mengandung.
tapi, saya muak.
saya muak terhadap sistem peradilan di bawah meja. banyak yang tau, tapi acuh dan pura-pura tak terjadi apa-apa. munafik.
saya muak melihat seorang bapak yang membonceng anaknya, tapi dengan mudahnya menerobos lampu merah. bukankah seorang anak itu perekam yang baik atas kelakuan orang tuanya? orang pertama yang akan jadi guguannya. kuharap, kalian mengerti akan maksud saya.
saya muak melihat kebanyakan orang yang lebih melihat hasil, daripada proses yang telah kita tempuh. yang bahkan mereka tak pernah mengalami kepelikan itu sendiri.
ya, hari ini saya muak.

Kamis, 26 April 2012

di minggu yang ke berapa

di minggu yang ke berapa entah aku tiba-tiba membencimu, memicingkan mata tatkala aku melihat foto kita di dinding kamarku. di minggu yang ke berapa entah aku tiba-tiba enggan menyebutkan namamu, bahkan sekedar mengeja kalimat tentangmu. di minggu yang ke berapa entah lahir perasaan jahat dalam hatiku. aku bukan orang jahat, begitu juga denganmu. atau mungkin aku yang orang jahat, karena aku punya perasaan cemburu yang terlalu besar padamu.

lelakiku pernah bilang, cemburu itu hanya sebuah peluru. peluru yang kau tembakkan, bukan akan mengenai siapa yang kau anggap musuhmu. tapi akan mengenai dadamu sendiri, sampai kau akhirnya jatuh tersungkur, menangis, lalu mati berteman air mata. aku tau dia bukan lelakiku lagi, tetapi setidaknya kau tak melompati pagar hatiku. bukan sekedar melompat, kau telah merusaknya. ada beberapa bagian yang rusak di sana. kamu tak akan pernah sadar, bahkan hanya sekedar menengok untuk berkata aku menyesal.

di minggu yang ke berapa entah, aku tak sudi lagi mengenalmu. namun, masih ada saja perasaan sayang menggantung dalam langit-langit hatiku meminta dipetik, meminta pengakuan. layaknya sekolah swasta yang berseru pada pemerintah minta diakui. begitulah kiranya.

di minggu yang ke berapa entah lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri atas perasaan yang pernah terlahir di sini, di dadaku, di hatiku. padamu, padanya. pada lelaki yang pernah sedikit kusandarkan masa depanku padanya. lelaki yang selalu ingin kurengkuh tubuhnya lama-lama tatkala kami bertemu. lelaki yang menolak aku sebagai masa depannya.

tidakkah kau tau betapa sakitnya aku kala itu?
tidakkah kau tau betapa tersiksanya aku menahan rasa yang begitu jahat jika aku meluapkannya?
tapi akhirnya terluap juga, bukan. dan dia marah, dia marah besar.
mungkin kamu tak pernah merasa melakukan kesalahan.
hanya sedikit kumohon mengertilah akan perasaan yang sedang menggantung di depan mataku. menggantung lima senti di atas dahiku, yang susah sekali untuk kulepaskan barang semenit.

surabaya, 2012.
selamat ulang tahun buat sahabatku hari ini. aku tak pernah membencimu, percayalah. 

Selasa, 17 April 2012

aku menikmatinya, sayang


aku memang  bukan penyabar sayang
aku selalu antusias menanti waktu itu
detik-detik kala kau berjanji akan menatap mukaku
juga mengecup keningku
merengkuh tubuh kecilku
atau sekedar membelai rambutku
karena aku sangat menikmati
kala waktu berjalan seakan dua puluh kali lebih lambat dari biasanya
kala jantungku memompa darah dengan tidak normal
kala tanganku berkeringat bukan karena gerah
kala mulut ini harus gagu berujar karena gugup
meski setelahnya bukan habis rinduku
malah bertambahlah dia
seperti kupu-kupu kecil yang menggeliat
di perutku sayang
membuatku tak bisa jika hanya berdiam diri
menunggumu
membuat janji
tapi jangan khawatir, sayang
karena aku menikmatinya


surabaya, 2012
untuk kamu yang malam ini sedikit meredam rindu yang menyala.

kemarin


kemarin aku menari ketika hujan turun
menari pula kupunya jemari
ditemani rumput-rumput barang serumpun
di halaman rumah
tak peduli walau diserang rasa lelah
kamu tahu apa yang lebih menyenangkan, sayang?
menyelamatkan seekor kupu-kupu malang
sayapnya terjerat air liur tuan laba-laba
datang saja itu perasaan iba
mengandaikan diri ini seekor kupu-kupu
tapi bukan nyatanya
aku hanya bisa menari tak mampu terbang
karena sayap dulu yang pernah kupunya
tak dapat lagi kulihat rupa-rupanya hilang
ingatkah kau sepantun puisi yang sempat kutulis
waktu mentari belum juga terlelap
di teras sebuah rumah bergaya minimalis
dengan degup jantung yang berderap
ketika kau meminta menaiki punggungku
seolah kau itu sepayang sayap
membawaku menjelajah benda biru
atau sekedar bersama memerangi gelap
ketika itu adalah kemarin
kemarin yang tak akan pernah menjadi hari ini
atau bahkan esok hari


surabaya 2012