teruntuk A,
terlepas apakah kau akan membaca tulisan ini atu tidak, terlepas apakah kau mengerti apa maksud tulisan ini atau tidak. aku tau A kamu tak pandai merajut kata sepertiku, tak perlu kau mengerti apa makna dan maksud dari sajak-sajak yang telah kusulam, aku tau kau sedang membacanya sudah cukup membuatku senang bukan main. tapi memang tulisan ini hanya buatmu A.
sampai kapan kamu harus berpura-pura untuk tau apa yang sedang kurasakan, aku lelah berlari A, apakah kau tak ingin berlari bersamaku? mengapa kau bilang kalau posisimu lebih menyenangkan yang sekarang. bukankah kau belum mencoba asyiknya berlari bersamaku, A? Oh, aku nyaris lupa. kita pernah melakukannya dan aku tertinggal. kamu pernah berlari terlalu cepat, A. meninggalkanku. apa itu memang kau sengaja, A? apa begitu?
ah, harusnya aku tau jawabannya sejak awal, A. kamu tak akan pernah membaca tulisan ini. apa aku sia-sia menulis ini semua, A? apa harus aku kirim tulisan ini melalui merpati pos ke dalam kamarmu, A? apa harus? maafkan aku, A. aku terlalu banyak bertanya dan aku terlalu banyak sekali mengeluh. begini A, tanpa harus aku beritahu pun rasanya kamu sudah mengerti bagaimana aku terhadapmu sekarang, A.
aku masih mencintaimu dari awal aku mencintaimu hingga kini mungkin sampai nanti.
kamu tahu arti nanti, A? nanti itu tak ada batasnya. nanti ya nanti. apa berarti nanti itu besok, besok lusa, tahun depan, lima tahun lagi, atau sampai Tuhan merenggut nyawaku. aku tak tahu, A. tapi aku mencintaimu sampai nanti.
apakah kau meraskan hal yang sedang kurasakan, A?
jawabannya memang hanya ada dua, A. tidak dan iya. tapi jika iya, kenapa kamu harus bilang tidak, A? kenapa kamu masih saja memelukku, A? kenapa masih kurasakan detak jantung kita yang beradu waktu kita berpelukan, A? mengapa kita masih saja terbawa suasana, A? kenapa bibir kita masih selalu ingin dipertemukan, A? apa kamu tau jawabannya, A? kamu hanya menggeleng lalu terdiam atas semua pertanyaanku, A. atau kamu mungkin tau kepada siapa aku bisa memperoleh jawaban ini, A?
A, sebenarnya niatanku awal menulis ini bukan menghujani kau dengan semangkuk tanya seperti barusan. terlebih untuk perasaan mengganjal dalam benakku tentang apa yang telah aku lakukan padamu, A. yang katamu membuatmu tidak nyaman, yang katamu membebanimu. harusnya dari awal aku tau, A. tak ada manusia di muka bumi ini yang ingin dipaksa atas kehendak orang lain. tapi aku tak punya niatan memerintahmu waktu itu, A. aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. atau sesuatu yang tak kuinginkan merenggutmu dariku, A. betapa aku posesif waktu itu ya, A. aku ingin sekali menertawai tingkahku, A. bodoh. aku sudah memaafkan kawanmu itu, A. lebih tepatnya kawan kita. memaafkan adalah perkara yang susah, A. tapi aku selalu memaafkan apa yang orang lain perbuat padaku, bahkan sebelum mereka melontarkan maafnya padaku. tapi maaf A, aku orang yang susah melupakan. semoga kamu masih mengingat juga, apa yang telah kalian lakukan, hingga membuat perasaanku tersayat kala itu.
sudah tiga bulan ya, A. tenang, aku baik-baik saja. aku sudah memaksa keluar perasaan aneh itu tapi dia tak mau, A. katanya dia suka berada padaku. tapi kenapa dia tak mau berada padamu, A? itu yang aku heran sampai sekarang.
aku tak perlu jawabanmu A, aku hanya ingin kau pun ikut berlari (lagi) bersamaku, A. maukah kau ?
Surabaya, 2012