gerimis di pelupuk mata



sudah lama kuperhatikannya
namun tak sedikit ku berani menyapanya
gadis kecil berkaus kuning
yang menangis dalam hening
tak ada isak tak geru
hanya gerimis di pelupuk mata
ingin rasanya hati berseru
dik, apakah gerangan yang membuatmu sendu
ibunya tiada ayahnya tiada
ketika semesta sedang gusar sore itu
jasad tak ada kuburan tak ada
hanya kenangan dalam benak mampu dielu
beruang kecil bermata satu
dipeluknya dalam diam tersedu
hadiah ulang tahun dari ibu, kak
aku memintanya sedikit memaksa
begitulah kiranya dia bercerita siang itu
dia ingin mengulang waktu
di suatu sore di depan lilin
dalam dekap ayah dan ibu
bukan beruang kecil bermata satu yang dipinta
tapi hadirnya ayah ibu yang tercinta
dia menggenggam kedua tanganku
cintai ayah dan ibu tanpa syarat, kak
sebelum sesal datang merajaimu

surabaya 2012

meja berkaki empat


ni, pria itu memang harusnya tak boleh sejajar
mungkin sudah takdir dia setingkat di atas kita
tapi jiwa kita tetap harus tangguh
jangan mau dikalahkan mereka

ni, ucapan itu bisa saja sebuah bisa
tapi ucapan juga bisa sebuah belaian
jangan sampai pedulimu binasa
akan beberapa orang kawan

ni, apa kau pernah tahu sebuah meja
kita bagai meja berkaki empat
bersama-sama kita mengeja
menyatukan jiwa menjadi kuat

ni, kalau kau pergi apalah kita
empat kaki hilanglah satu
pincang kita dibuatnya
makin susah melangkah maju

ni, pria itu seperti ular
mereka licin tak terkira
cacian mereka jangan dengar
karena apapun, kiranya masih ada kita

maret 2012
untuk uni yang tak sadar akan pasung di kakinya.

sebelas

pada angka sebelas, kita menetas
pada angka tujuh belas, jiwa berbalas
pada angka dua puluh kamu mulai mengeluh
bisakah kita hanya bertemu angka satu
bukan dua puluh sembilan
atau bahkan tiga puluh
wajahku sudah ditumbuhi peluh
mungkin akan mati esok hari


11 april 2012
pada angka sebelas yang mempertemukan kamu dan aku hingga menjadi kita
pada sebuah tempat dengan angka sebelas semesta mempertemukan kita