Kali ini, Aku ingin Berkisah

: JvTino

Duduklah di sini sayang,
aku ingin menceritakan sebuah kisah
tentang sebuah meja makan kayu mahoni,
yang rindu akan sanjung puji
dari mulut seorang laki-laki.

Pernikahan beberapa bulan lalu,
hanya pernihakan sederhana.
Tak ada gedung mewah,
tak ada makanan enak.
Suaminya hanya seorang buruh pabrik,
istrinya hanya pelayan restauran padang di ujung gang.

Ramadhan kala itu, sayang.
Mereka lebih sering berbuka dengan air mata
berlinang dan dua gelas teh tawar.
Namun tak sedikitpun meredupkan
kasih sayang mereka yang begitu liar.

"Berbuka apa kita senja ini, manis?"
Sang suami berbisik, napasnya masih tersengal.
Istrinya hanya tersenyum.

Semangkuk besar kolak,
asapnya masih menyeruak,
memenuhi ruangan yang dindingnya mulai retak.
Mata sang suami tak berhenti memandang,
hingga adzan berkumandang.
Ucapan syukur tak berhenti terngiang.

Sayangku, aku malu pada cangkir kopi di depan kita.
Aku terlalu banyak mengeluh,
tentang kenangan yang menyisa peluh.

Sayangku, kemarin kita berbicara tentang cahaya.
Bayangkan senyum serta ucap syukur mereka,
kita tak berarti apa-apa.
Raguku tentangmu pun memudar
seiring datangnya percaya.



Megalogi Fajar

Di ujung terpisah,

“ada mega fajar di dadamu,

yang kamu pendam begitu lama,”

cahaya matahari runtuh perlahan
mengejar sesapan kopiku di cangkir pemberianmu.
Perlahan, sesapan kopiku luruh di dinding-dinding kacanya,
mengandai jejak gurat bibirmu masih lekat,
merasai wujudnya,
sekadar memadu rasa kopiku
dengan sinar fajar yang menyayat.
.
Di ujung perjalanan cahaya
kamu bertanya,

“jika kamu ingin menjadi senja,

sedangkan aku adalah pagi,

bagaimana bisa aku menemuimu?”

Duhai geloraku,
matahari sejenak runtuh cahayanya,
gemetar dibungkam malam yang tak mampu menjawab.
.

“… Matahariku, ini tentang kamu …”

Ini tentang tuturan kisah
mengapa aku memilihmu,
menginginkanmu,
hingga jatuh jingga
pada dada yang sama.
.

“Duhai surya pujaanku,

akan datang ribuan geram untuk sebuah kehilangan,

tapi akan datang dekapan yang kau cari.”

Seperti matahari yang kau benci setengah ragu,
seperti kau benci setengah rindu saat aku menyebutmu Matahariku.
.
Di ujung rentang jingga,
aku memintamu duduk bersama,
bertukar jejak bibir di cangkir kopi yang sama,
lalu kuceritakan
tentang jarak fajar dan senja,
tentang ribuan tahun nyawa cahaya.
Maka, aku berharap kamu akan mengerti
saat…

“… ada megalogi fajar di dadamu,

yang kamu pendam begitu lama,

berdenyut mengaliri nyawa,

menembus terawangmu,

menarikku,

untuk rasakan debar asmara yang nganga…”

.
—————-

dari @JvTino untuk #DuetPuisi
re-blog dari: "Megalogi Fajar" di setintapena

Dialog Pagi

: JvTino

Pagi di pinggiran kota Surabaya,
matahari belum juga terlihat, sayangku.
Di ufuk timur belum juga kulihat cahaya seberkas pun.
Aku membisu di teras rumah,
dengan secangkir kopi hangat bikinan ibu,
ditemani kicau burung gereja 
yang girang hendak menyambut pagi.
"Pagi itu, Matahariku, 
selalu datang membawa harapan-harapan,"
begitu bisikmu kala itu.

Ingatkah kau di suatu pagi, 
ketika aku bilang aku membenci matahari,
ketika aku menyalahkan sebuah kehilangan,
ketika aku lebih memilih bercengkerama dengan senja?
Matahari tak lagi terlihat.
Di mana harapan yang katamu itu ikut tenggelam
ditelan gulita?

Ingatkah kau di suatu pagi yang gigil?
Kau mulai memanggilku dengan sebutan manis -- Matahariku,
semanis gula-gula yang kau harapkan kedatangannya,
semanis aku, katamu.

"Aku benci kau memanggilku Matahari, 
panggil aku senja.
Bagaimana bisa aku menemuimu, 
jika kamu ingin menjadi senja,
sedangkan aku adalah pagi?"
Dialog pagi itu berputar lagi di kepalaku

"Percayalah, Sayang, 
pagi itu selalu datang dengan membawa harapan,"
bisik ibu sambil mengangat cangkir kopiyang kosong,
sekosong dadaku,
sebelum aku
mengenal pagi -- mengenal kamu.