Percakapan Tentang Luka


sebuah percakapan antara aku dan dia perihal aku yang masih terbalut luka olehmu

pagi itu agaknya matahari masih terlalu mengantuk untuk tersenyum saat kubuka kedua mataku. hari ini aku punya janji yang harus dituntaskan. entah kenapa aku merasa takut, akan sebuah pertemuan. karena yang aku tau, di dalam pertemuan selalu akan mengandung perpisahan. mau atau tidak mau. kulihat matahari bukan hanya mengantuk, dia masih tertidur pulas pada peraduannya. ayam jantan pun tak sampai hati berkokok membangunkannya. pagi itu sungguh dingin. sedingin hatiku.

embun semacam bisa membaca gelisah yang mendera batinku. mereka menyapaku melalui titik-titik di kaca jendela, berkata "hai" dengan bahasa mereka yang cukup kumengerti. memijat syaraf kegelisahanku dengan sejuknya.

ponselku berdering.

"selamat pagi, nona manis. bagaimana tidurmu semalam?"suara di seberang kabel itu seakan menghapus rasa kantukku.

"selamat pagi, mas. tidurku cukup melelahkan."

"ah, aku bosan mendengarnya. satu jam lagi terbang. doakan aku. tunggu aku."

"apa yang akan kau lakukan saat pertama kali melihatku, mas?"

"aku akan memelukmu."

katamu


katamu waktu sudah kau kekang, dia tak akan pernah lekang. bahkan di tengah deru ombak terjang, pada gurat keriput di wajah yang mulai hilang. sebagai penyebab hati yang berang, di dasar lautan yang tenang.

katamu rindu sudah kau tanam, bersama manisnya kue-kue talam. yang mampu membuatku terbenam, dalam senyummu yang mulai terpejam. dibantu kepakan sayap yang kian meruam, menyisir semesta yang makin kelam.

katamu rasa itu bukan sekedar asa, bukan juga sesat yang merana. melainkan semangat yang membahana, membuat putih bertambah warna. juga puisi yang berirama, berdentum memainkan nada.

katamu cinta sudah kau tanak, bahkan dia mulai beranak-pinak. semakin deras menyerantak, sekalipun kaca jendela meretak. belum mengenak kata tak, pada keramaian yang semakin pekak.

katamu jemari kita nantinya melebur, hingga suatu saat kita terkubur. bahkan ketika kita hanya bisa kaku terkujur, dalam takdir yang pasti membilur. berharap masih terus dalam lajur, walau harus meruntut jalan tanpa jalur.

tapi tak dapat kurasa semua katamu, benar-benar hanya asa yang semu semu membiru.
karena memang semua hanya katamu, bukan lakumu.

dikekang sunyi


ketika harap tak mampu lagi merayap
hanya terdiam menengadah dipendam gelisah
merutuk sepi dalam sunyi tanpa bebunyi
tak menghirau amar yang menggelegar
membentuk barisan aposisi pada amunisi
dirajam mesiu wangi gaharu
di dalam jangkat rotan yang terikat di kaki dipan
meringkih kaku padahal dulu gigih berseru
sungguh bebal dalam ukuran yang katanya kekal
di waktu asyik menenun sampai majenun
bersulut-sulut lalu kumisnya beringsut
membelai miang yang terkekang oleh berang
ditimpuk sepi sampai melapuk
mengantar pada inferno yang katanya hanya kuno
dan mustahil untuk selamat hanya menunggu lumat