Seperti Apa?

Seharusnya, aku tak patut untuk mengeluh. Sayangnya, aku hanya manusia biasa saja. Satu tahun belakangan aku banyak menerima kabar gembira berupa undangan pernikahan. Bagaimana aku tak turut bahagia melihat kawan-kawanku tengah berbahagia. Nyatanya, kabar gembira itu justru meninggalkan kegelisahan di atas kepalaku.

Membingungkan memang dengan kebiasaan sebagian orang di sekitarku yang menerapkan hukum tidak tertulis bahwa perempuan di usia sepertiku saat ini adalah saat-saat ideal untuk menikah, atau setidaknya sedang merencanakan pernikahan.

Aku sempat berpikir, mungkin menyenangkan jika memiliki lengan hangat milikmu sendiri. Tapi bagaimana bisa aku membayangkan jika kepada siapa hatiku terjatuh saja aku tak benar-benar tahu, atau lebih tepatnya aku sedang dalam masa dimana sebuah pertanyaan muncul di atas kepalaku setiap pagi,

"Jadi, cinta itu seperti apa?"

Surat Ke-11: Kepada Mr. Nob

gambar diambil dari sini

Mr. Nob sayang,

Maafkan aku tak ada surat untukmu di hari pertama hingga sepuluh. Sebab aku terlalu sibuk menghitung rinduku. Mr, Nob, Februari yang basah tahun ini singgah di kotaku. Mampirlah sebentar kemari, temani aku menyeduh cerita-cerita di cangkir kopiku yang malang. Malang sebab tak punya kawan bermain dia di atas meja. 

Pulanglah, Tuan. 

Temani aku menghirup kopi dan membaca buku.

Surabaya, 10 Februari 2015

Happy New Year

Balkon tempat Nona Pop berdiri cukup tinggi, setinggi harapan yang pernah diberikan seseorang padanya. Harapan yang tertelan ribuan kilometer yang tak mampu dijangkau kedua lengannya. Jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 23.40, setidaknya masih ada sekitar dua puluh menit untuk menyesali segala apa yang terjadi di tahun ini.

Seorang pelayan mengantarkan dua botol berwarna hijau yang mengembun persis seperti matanya malam itu. Seorang laki-laki duduk bersandar di sebuah kursi rotan, memantikkan api dan menyalakan rokoknya. Satu sesapan.


Ari:
Langit malam ini terlalu indah untuk kau nodai dengan air mata, Miss.

Nona Pop:
Can you see that? Mendung.

Kafe itu terletak di atap sebuah gedung apartemen, tempat yang suatu saat nanti ingin Nona Pop kunjungi dengan seseorang. Di bawah mereka, klakson mobil dibunyikan bersahut-sahutan. Turun ke jalanan pada hari terakhir di kalender adalah ide yang sangat buruk, terutama di kota metropolitan semacam ini.

Kota ini dulu pernah indah, setiap sudutnya gemerlap, setiap jengkalnya indah, sebelum sebuah kenangan merusaknya. 

Rokok Ari sudah habis, minuman Ari tinggal setengahnya, namun Nona Pop belum juga menyentuh miliknya.

Ari:
Happy New Year, Miss. What do you wish?

Nona Pop:
Aku cuma ingin tahu, apa kami baik-baik saja.

Ari:
If he love you, Miss. He will call you, immediately.

Sebuah telepon genggam berdering.

Ari:
Halo, sayang..

Nona Pop mengusap pipinya, hangat. Perempuan itu merapatkan sweeternya. Jalanan mulai basah, beberapa pejalan kaki mencari tempat berteduh. Halo hujan pertama di tahun 2016.