: adityan
Semisal kita dilahirkan di tahun seribu delapan ratus
waktu akan mempertemukan kita
dengan Abigail dan John Adams.
Untuk bertanya
bagaimana caranya mengalahkan jarak.
Bagaimana caranya menulis surat cinta yang panjang dan dalam,
di tengah situasi peperangan.
Semisal kita di Paris,
aku akan merengek minta dipertemukan,
dengan Heloise dan kata-kata pilunya,
ketika dia kehilangan Abelard.
Bagaimana rasanya menjadi tabah,
ketika keadaan memisahkan mereka,
dengan jarak yang sepanjang entah.
Puisi ini kutulis dengan tanganku sendiri
di atas trotoar
dengan debar.
Ketika tak jauh dari tempat aku duduk kulihat
seorang tukang sampah tersengal menarik gerobaknya
padahal terik sedang beraksi.
Semangatnya tak patah,
di atas kepalanya tergambar seorang perempuan cantik,
beserta dua orang anak yang lucu-lucu
sedang merintih kelaparan.
Kau tau apa yang ada di pikiranku?
Kita harus sekuat tukang sampah.
meski anak-anak rindu kita makin banyak dan lapar
meski kangen di setiap sel tubuh kita makin menggeletar
meski kita belum juga sempat,
untuk bersauh.
Kita adalah dua yang tabah, Adityan.
Kita adalah dua yang tegar.
yang akan menang bertempur dengan jarak.
Surabaya, 2013
Beberapa Pertanyaan yang Menginginkan Jawaban
: JvTino
/1/
Beberapa hari yang lalu, seorang penyair menghampiriku, memberiku sebuah buku dan berkata bahwa hidup ini sedemikian singkat, sedekat antara adzan dan sholat. Lalu aku bersujud di pekat malam, melinangkan air mata hingga kedua mataku lebam. Mulutku tak henti mengucap shalawat,
apakah kita juga sedekat adzan dan sholat?
/2/
Esoknya, penyair itu datang lagi. Menemaniku menandaskan segelas kopi yang sesungguhnya tak ingin kuminum. Dia berbicara tentang luka, katanya, aku mengingatkannya pada seorang perempuan yang menghadiahi luka di dadanya dengan perpisahan-perpisahan kecil melalui sebuah pelukan. Pelukan katanya, hanyalah kosmetik yang mempercantik perpisahan.
Lalu, sayangku, apa sebenarnya arti dari sebuah pelukan?
/3/
Hari ini hujan, sayang. Di stasiun ini, aku sudah menunggu lama, namun kau tak datang. Tebak, siapa yang bertandang?
Sang Penyair, dia memelukku sambil menangis.
"Hujan adalah selembar karcis yang ditukarkan untuk membasuh luka mata orang-orang yang ditinggalkan" bisiknya.
Kekasihnya pergi, kepada entah. Setelah sadar bahwa mereka adalah tubuh-tubuh yang saling melukai.
Aku bertanya dalam hati, siapa sebenarnya kita, sayang?
/4/
"Aku malu bila tak memegahkan kita
saat cangkir di depan kita justru tersipu malu."
kalimat terakhir yang kamu ucapkan padaku dan masih kugenggam dalam ingatan bersama beberapa kenangan yang menyesakkan dada.
Apakah kau akan tetap berjalan di sampingku, sayang?
Hingga waktu memegahkan kita.
Semesta di Meja Mahoni
Kali ini, aku menyimakmu,
bercerita tentang setia,
berpuasa demi cinta,
berbuka dengan linangan syukur berairmata.
.
Di meja mahoni,
kita tak lagi bercerita tentang cahaya pagi,
senja,
atau pelangi di malam hari.
Di meja mahoni ini,
izinkan aku menatap matamu,
menatap semestaku,
menikmatinya lebih dalam lagi.
.
“Sayang, aku malu pada cangkir kopi di depan kita,”
katamu,
kataku,
“aku malu bila tak memegahkan kita
saat cangkir di depan kita justru tersipu malu.”
.
Darimu,
di meja mahoni,
semangkuk kolak gula kamu sajikan untuk berbuka,
dan bercerita tentang tegar setia itu ada.
Dariku,
aku menatap malam seribu bulan di matamu,
saat kamu bercerita,
saat aku enggan pergi dari meja mahoni,
saat kita saling suap semesta cinta
dari semangkuk kolak gula.
.
——————-
dari @JvTino untuk #DuetPuisi
re-blog dari: "Semesta di Meja Mahoni" di setintapena
Langganan:
Postingan (Atom)