Semesta di Meja Mahoni

Kali ini, aku menyimakmu,

bercerita tentang setia,
berpuasa demi cinta,
berbuka dengan linangan syukur berairmata.
.
Di meja mahoni,
kita tak lagi bercerita tentang cahaya pagi,
senja,
atau pelangi di malam hari.
Di meja mahoni ini,
izinkan aku menatap matamu,
menatap semestaku,
menikmatinya lebih dalam lagi.
.
“Sayang, aku malu pada cangkir kopi di depan kita,”
katamu,
kataku,
“aku malu bila tak memegahkan kita
saat cangkir di depan kita justru tersipu malu.”
.
Darimu,
di meja mahoni,
semangkuk kolak gula kamu sajikan untuk berbuka,
dan bercerita tentang tegar setia itu ada.
Dariku,
aku menatap malam seribu bulan di matamu,
saat kamu bercerita,
saat aku enggan pergi dari meja mahoni,
saat kita saling suap semesta cinta
dari semangkuk kolak gula.
.
——————-
dari @JvTino untuk #DuetPuisi
re-blog dari: "Semesta di Meja Mahoni" di setintapena

Kali ini, Aku ingin Berkisah

: JvTino

Duduklah di sini sayang,
aku ingin menceritakan sebuah kisah
tentang sebuah meja makan kayu mahoni,
yang rindu akan sanjung puji
dari mulut seorang laki-laki.

Pernikahan beberapa bulan lalu,
hanya pernihakan sederhana.
Tak ada gedung mewah,
tak ada makanan enak.
Suaminya hanya seorang buruh pabrik,
istrinya hanya pelayan restauran padang di ujung gang.

Ramadhan kala itu, sayang.
Mereka lebih sering berbuka dengan air mata
berlinang dan dua gelas teh tawar.
Namun tak sedikitpun meredupkan
kasih sayang mereka yang begitu liar.

"Berbuka apa kita senja ini, manis?"
Sang suami berbisik, napasnya masih tersengal.
Istrinya hanya tersenyum.

Semangkuk besar kolak,
asapnya masih menyeruak,
memenuhi ruangan yang dindingnya mulai retak.
Mata sang suami tak berhenti memandang,
hingga adzan berkumandang.
Ucapan syukur tak berhenti terngiang.

Sayangku, aku malu pada cangkir kopi di depan kita.
Aku terlalu banyak mengeluh,
tentang kenangan yang menyisa peluh.

Sayangku, kemarin kita berbicara tentang cahaya.
Bayangkan senyum serta ucap syukur mereka,
kita tak berarti apa-apa.
Raguku tentangmu pun memudar
seiring datangnya percaya.



Megalogi Fajar

Di ujung terpisah,

“ada mega fajar di dadamu,

yang kamu pendam begitu lama,”

cahaya matahari runtuh perlahan
mengejar sesapan kopiku di cangkir pemberianmu.
Perlahan, sesapan kopiku luruh di dinding-dinding kacanya,
mengandai jejak gurat bibirmu masih lekat,
merasai wujudnya,
sekadar memadu rasa kopiku
dengan sinar fajar yang menyayat.
.
Di ujung perjalanan cahaya
kamu bertanya,

“jika kamu ingin menjadi senja,

sedangkan aku adalah pagi,

bagaimana bisa aku menemuimu?”

Duhai geloraku,
matahari sejenak runtuh cahayanya,
gemetar dibungkam malam yang tak mampu menjawab.
.

“… Matahariku, ini tentang kamu …”

Ini tentang tuturan kisah
mengapa aku memilihmu,
menginginkanmu,
hingga jatuh jingga
pada dada yang sama.
.

“Duhai surya pujaanku,

akan datang ribuan geram untuk sebuah kehilangan,

tapi akan datang dekapan yang kau cari.”

Seperti matahari yang kau benci setengah ragu,
seperti kau benci setengah rindu saat aku menyebutmu Matahariku.
.
Di ujung rentang jingga,
aku memintamu duduk bersama,
bertukar jejak bibir di cangkir kopi yang sama,
lalu kuceritakan
tentang jarak fajar dan senja,
tentang ribuan tahun nyawa cahaya.
Maka, aku berharap kamu akan mengerti
saat…

“… ada megalogi fajar di dadamu,

yang kamu pendam begitu lama,

berdenyut mengaliri nyawa,

menembus terawangmu,

menarikku,

untuk rasakan debar asmara yang nganga…”

.
—————-

dari @JvTino untuk #DuetPuisi
re-blog dari: "Megalogi Fajar" di setintapena