gemuruh dupa meruap hening
menyisa aroma getir hingga memusing
sorotnya tajam mengecup kening
dipercik air keruh oleh sang bening
di atas mentari berbalut kostum kuning
durhaka ia tak ambil pusing
ditantangnya seekor mamalia bertaring
memancing mosi mengundang muring
hatinya tak pernah hilang hanya mengering
bukan sesekali ia terluka terlalu sering
surabaya, 2012
senandung hati yang mulai lelah bahkan sekedar untuk mendengar
spekulasi hati; ketika cinta sudah memilih
Tak
ada lagi yang menahan Kila di kota kecil ini, tidak juga dengan En. Yah, En,
begitu Kila memanggil anak laki-laki berpostur tubuh tegap dan rambut jambul
Tin-tinnya. Hari itu hari terakhir Kila berada di kota kecil ini bertepatan
dengan acara perpisahan di aula sekolah. Kila menatap deretan nama-nama di
papan pengumuman, melihat namanya berada di deretan daftar siswa yang lulus
tahun ini. Kila tersenyum, getir.
Rasanya
baru kemarin dia mengikuti MOS atau Masa Orientasi Sekolah. Rasanya baru
kemarin dia dihukum hormat di bawah tiang bendera seharian oleh seniornya.
Rasanya pun baru kemarin Kila dinobatkan menjadi the best reporter di majalah
sekolahnya. Mungkin Kila tidak begitu cemerlang di bidang akademik, namun
debutnya di organisasi sekolah membuat satu isi sekolah tidak ada yang tak
mengenalnya. Mulai dari kepala sekolah, guru-guru, karyawan di bagian Tata
Usaha, hingga tukang kebun dan satpam sekolah pun mengenal gadis ramping dan
mungil itu.
Kila
mencari sebuah nama. Zulkarnaen. Lalu menghembus nafas lega sesudahnya, anak
laki-laki itu juga berada di daftar yang sama dengan Kila.
“Hey,
Kila.”sapa Dito, cowok berbehel itu merangkul leher Kila.
“Hey,
To.”
“Selamat
ya, namamu masuk sepuluh besar.”
“Selamat
juga namamu masuk ada di daftar nama yang lulus.”sahut Kila sambil cekikikan.
Dito melepas pelukannya, nyengir melihat namanya berada di urutan paling bawah.
“Ada
di urutan paling bawah aku udah bersyukur banget, La.”desis Dito. Kila tersenyum. Kila juga tau, potensi Dito
memang bukan di bidang akademis. Tapi, dia kapten basket hebat yang pernah
dimiliki sekolah itu. Tiga tahun berturut-turut sekolah mereka mendapat gelar
juara umum pada kompetisi basket se kabupaten. Dito juga tahu, Kila bukan
bermaksud meledeknya tadi. Dito mendekatkan pandangannya ke deretan nama-nama
di hadapannya.
“Udah,
mau dipelototi gimana pun. Namamu nggak bisa dituker posisinya sama Ayu.”
“Ah,
gila. Kok bisa ada anak secerdas Ayu. Liat itu nilainya. Bulet semua kayak
orang bunting.”ujar Dito. Kila tergelak. “Kamu nggak mau gabung sama
temen-temen di dalem? Sejam lagi bandnya En manggung.”
“Kamu
duluan aja.”
“Yaudah,
jangan sampe kelewatan, La. Kata En besok kamu udah berangkat ke
Surabaya?”tanya Dito. Kila mengangguk, seperti ada sejuta pertanyaan yang ingin
Dito lontarkan pada Kila. Dito menatap mata Kila sejurus kemudian berlalu
meninggalkan gadis kecil dengan kuncir kudanya.
jadi kapan, sayang ?
jadi kapan sayang ?
kau memperbolehkan namaku menjejali alam pikirmu
aku menjadi yang pertama buatmu dan menjadikan kedua dan ketiga menjadi tiada
aku menjadi pusat rotasi alam semestamu dan
menjadi titik pemberhentian terakhir akan perjalananmu
jadi kapan sayang ?
kau menyambut dengan peluk akan kebahagiaan yang kutawarkan
bayanganku memenuhi setiap ruang benak yang kau punya
suaraku menjadi irama yang paling merdu yang pernah kau dengarkan
dan nafasku melengkapi setiap sengal yang kau rasa
jadi kapan sayang ?
kehadiranku menjadi hal yang paling kau rindukan adanya
kecupanku menjadi bagian dari partikel semangat yang melengkapi harimu
lalu genggaman tanganku adalah yang selalu dicari oleh jari-jarimu kala mereka lelah
jadi kapan sayang ?
aku dan kamu menjadi kita.
kau memperbolehkan namaku menjejali alam pikirmu
aku menjadi yang pertama buatmu dan menjadikan kedua dan ketiga menjadi tiada
aku menjadi pusat rotasi alam semestamu dan
menjadi titik pemberhentian terakhir akan perjalananmu
jadi kapan sayang ?
kau menyambut dengan peluk akan kebahagiaan yang kutawarkan
bayanganku memenuhi setiap ruang benak yang kau punya
suaraku menjadi irama yang paling merdu yang pernah kau dengarkan
dan nafasku melengkapi setiap sengal yang kau rasa
jadi kapan sayang ?
kehadiranku menjadi hal yang paling kau rindukan adanya
kecupanku menjadi bagian dari partikel semangat yang melengkapi harimu
lalu genggaman tanganku adalah yang selalu dicari oleh jari-jarimu kala mereka lelah
jadi kapan sayang ?
aku dan kamu menjadi kita.
Langganan:
Postingan (Atom)