kelopaknya lebar-lebar
tumbuh di sela-sela hati yang tengah menggelepar
warnanya jingga keemasan
jelaga dalam tubuh kenangan
menari-nari dalam ingatan
sesekali diraihnya dalam genggaman
bunga anggrek jingga merayu
daunnya menjuntai mencium tanah
bendera dikerek si muka kuyu
tak peduli pagi tak peduli malam tak peduli lelah
hatinya meronta di ujung tiang
tak dihiraukannya jiwa-jiwa gersang
dibiarkannya hingga hilang
hati anggrek jingga tak bertuan
tak bisa hidup jika panas menyulut
sejuk hati ini menatapmu, tuan
lalu kembali gersang kala kau beringsut
11 april 2012
hati ini tak lagi bertuan, sayang.
sepotong semangat
sepotong semangat
dengan tawa yang menggelegar bahkan kudapati sangat liar
suaranya meraung bak singa yang tengah terkungkung
kuku jari yang memanjang siap menyerang
sekedar mencakar mencerca semak belukar
kudapati telinga yang tajam siap menghujam
jika suara sumbang mulai terlihat mengambang
nafas tersengal hampir terpenggal
kembang kempis dadanya
harusnya tak perduli apa kata mereka
harusnya kau pandang mimpi di hadapmu
yang menggantung lima senti di atas kepalamu
semangat boleh memberang
bahkan harusnya kau pelihara
kau anak pinakkan
atau kau bagi pada kawan di sebelahmu
april, 2012
ketika semangat tengah padam.
pada hasrat yang menolak rindu
kenapa kau sebut itu celana? kenapa tak kau sebut baju?
jangan kau tanya mengapa, aku sedang bingung akan rindu.
mengapa kehadiran rindu selalu kau permasalahkan?
karena dia selalu datang berdua dengan kenangan.
apa salah kenangan hingga kau begitu membencinya?
aku tak membencinya. dia mengantungi hal yang indah yang tak bisa kumiliki lagi sekarang.
apa isi kantung kenangan dan mengapa tak kau pinta saja?
pertanyaanmu sungguh menusuk sedikit pada angan, dia mengantungi hal yang indah semacam senja.
ah, apa indahnya senja? hanya warna oranye yang menggantung malas di langit sore.
tutup mulutmu saja, tapi bukalah matamu juga hatimu lebar-lebar. tatap senja nanti sore dalam-dalam lalu kembalilah padaku, beritahu apa yang kau rasakan.
~ surabaya 2012
pada hasrat yang menolak rindu.
jangan kau tanya mengapa, aku sedang bingung akan rindu.
mengapa kehadiran rindu selalu kau permasalahkan?
karena dia selalu datang berdua dengan kenangan.
apa salah kenangan hingga kau begitu membencinya?
aku tak membencinya. dia mengantungi hal yang indah yang tak bisa kumiliki lagi sekarang.
apa isi kantung kenangan dan mengapa tak kau pinta saja?
pertanyaanmu sungguh menusuk sedikit pada angan, dia mengantungi hal yang indah semacam senja.
ah, apa indahnya senja? hanya warna oranye yang menggantung malas di langit sore.
tutup mulutmu saja, tapi bukalah matamu juga hatimu lebar-lebar. tatap senja nanti sore dalam-dalam lalu kembalilah padaku, beritahu apa yang kau rasakan.
~ surabaya 2012
pada hasrat yang menolak rindu.
Langganan:
Postingan (Atom)