Dandi Putri Sejiwa (Part I) : How I Met Him?

Suatu hari, aku kirim pesan kepada dua orang sahabatku dengan pertanyaan yang sama. Pertama, aku tanya ke Anita. Why Anita? Dia sahabatku yang tahu banget aku seperti apa orangnya, yang tahu banget perjalanan hidupku, yang tahu banget dosa apa saja yang aku buat, yang tahu banget siapa aja gebetan-gebetanku. Hehe.

I sent him a message, 

"Kamu kaget ngga kalau aku nikah sama Dandi."

and she answered, "Engga banget."

Kedua, aku kirim pesan sama Sultan (yang akhirnya aku percayakan sepenuhnya acara pernikahanku sama dia. Kenapa Sultan? Aku bahkan lupa kami dulu jadi berteman karena apa. Padahal kalau diurut, engga ada ceritaya dari TK sampai kuliah kami satu sekolah atau engga ada ceritanya kami berteman karena satu circle. Long long story sampai akhirnya kami bisa berteman baik sampai sekarang.

I asked, "Kaget ngga kalo aku nikah sama Dandi."

Kalian tahu dia jawab apa? Dia jawab, "Aku malah kaget kalau kamu nikahnya engga sama Dandi."

Sebenarnya pertanyaan itu aku lontarkan bahkan sebelum akhirnya aku dan Dandi memutuskan untuk menikah. Kalau dipikir-pikir ternyata cinta bisa selucu ini. Kami kenal pertama kali di tahun 2011, waktu itu kami masih di bangku kuliah dan sedang masa KKN. Dandi adalah salah satu kawan satu tim di KKN, tempat kami KKN lumayan terpencil di daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Namun bahkan, di hari perkenalan tim di kampus kala itu, aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Dandi baru saja menyelesaikan PKLnya, dia sudah tidur beberapa hari katanya. Jadi, ketika aku mulai mengoceh siang itu di depan teman-teman tim (i am kind of people yang kalau lagi di suatu grup tapi tidak ada yang mulai bicara jadinya gemes lalu akan menjadi yang paling pertama angkat bicara), kata Dandi-ini aku dapat cerita dari dia-sebel banget lihat aku yang sok banget berbicara di depan. Bodo amat, sekarang udah jadi istrinya. Hehe.

Tapi semenjak itu, kami sering menghabiskan waktu bersama, kuliner bersama (dasarnya sama sama doyan makan), sering banget nonton berdua, dan ngga sedikit sih yang komen, "kenapa kalian ngga pacaran aja, sih?" Males banget lah waktu itu hahaha.

Kami sering spent time berdua dan herannya, kami ngga pernah kehabisan cerita ketika lagi berdua. Dia cerita semua gebetan-gebetannya (iya, playboy emang haha), aku cerita soal mimpi-mimpiku. Jadi, ketika Anita sibuk dengan kampusnya, ya Dandi ini jalan keluarku. Hehe. Dia tau segala cerita tentang broken heart-ku dan drama-drama-ku. Hingga akhirnya aku lelah, dan berhenti mencari.

Thats why, aku kaget ketika suatu hari dia mengirimkan sebuah pesan.

"Kapan-kapan aku ke rumah, ya?"

"Ngapain?"

"Bilang baik-baik sama bapakmu."

Hingga akhirnya aku paham apa itu sedetik menunggu untuk melangkah lebih maju.

Foto ini diambil tahun 2016 ketika aku ditempatkan di luar kota karena pekerjaan. Pulang ke Surabaya, yang dicari Dandi :)



Pelangi dan Semesta yang Baik Hati


Pelangi.

Banyak sekali kejutan yang diberikan Semesta kepada saya dua tahun terakhir ini. Diterima di sebuah perusahaan yang bisa dikatakan banyak dicari orang juga sempat ngga tahu harus berkata apa selain bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Engga cuma itu, saya diberi hadiah berupa enam orang kawan yang begitu menggemaskan. Iya, menggemaskan dan suka bikin kangen.

Bertujuh, dengan saya, kami seperti pelangi. Tujuh orang dipertemukan di sebuah rumah tua no.35 di sebuah Pabrik Gula. Awalnya, sebagai karyawan baru waktu itu, kami diberi fasilitas berupa satu buah rumah yang dapat kami huni bertujuh. Perusahaan sudah menyiapkan dua kamar dengan tujuh kasur. Tiga di kamar depan dan empat di kamar belakang. Tapi kami, lebih memilih untuk ramai-ramai angkat kasur dan dipan ke kamar depan. Baiklah, silakan bayangkan gimana rasanya satu kamar dihuni dengan 7 orang lengkap dengan 7 kasur di dalamnya. 

Bertujuh, kami seperti pelangi, punya karakter yang berbeda-beda. Punya hobi yang berbeda-beda. Bertengkar? Hampir setiap hari kami bisa teriak-teriak. Tapi tenang, itu bukan bertengkar yang "bertengkar". Hmmm, how i tell you ya, guys. Ya intinya, kami ngga pernah bisa santai kalau ngobrol, ada saja ngecemes-nya, ada saja ributnya. Tapi, aku yakin, kami saling menyayangi. 

Kejutan selanjutnya yang diberikan semesta adalah, saya kemudian ditempatkan di unit usaha paling Timur. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, ngga kenal siapa-siapa. Sebagai anak gadis yang belum pernah sebelumnya merantau atau jauh dari rumah, jujur, saya takut. Bagaimana jika lingkungan itu tidak mau menerima saya? Bagaimana jika aku gagal? Dan bagaimana bagaimana lainnya.

Tapi lagi-lagi, Tuhan sangat baik.

Hingga akhirnya, saya ditempatkan di Pabrik paling kecil di perusahaan tempat saya bekerja dan Tuhan kembali membeli saya rezeki, berupa rekan-rekan kerja yang menyenangkan.

Akhir bulan nanti, saya akan kembali ke Surabaya. Apa saya bilang, Tuhan selalu baik kepada umatnya. Surat keputusan penempatan saya bilang, saya kembali ke Surabaya, saya dipindah ke kantor pusat, saya bisa kembali kuliah. Jadi, tak ada yang bisa saya katakan selain Alhamdulillah.

Alhamdulillah atas pekerjaan, atas kawan-kawan yang menyenangkan, dan atas kesempatan untuk kembali meneruskan S2. 

By the way, gaes, jika kita adalah pelangi, warna apa yang ingin kalian pilih? Aku kuning, ya. :)


tinggak dikerek aja di tiang bendera

kawan yang menyenangkan adalah obat

sibuqe sendiri sendiri


Olean, Maret 2017
With 💗,

Tiwi.

Kejutan

sudah hampir di penghujung tahun
tapi pertemuan itu tak pernah terjadi
kita bukan tokoh tokoh di novel
atau sinetron dengan rating tinggi
dengan kisah cengengnya
namun setahun,
bukan waktu yang sebentar

di kota ini,
tidak ada nasi bebek enak kesukaan kita
tidak ada ahmad yani yang kau benci
atau mayjend sungkono yang selalu kau hindari

di kota ini,
pengemudinya penuh dengan kejutan
seperti kamu
yang siang tadi
mengunggah foto dengan seorang perempuan

Situbondo, November 2016