Dialog Pagi

: JvTino

Pagi di pinggiran kota Surabaya,
matahari belum juga terlihat, sayangku.
Di ufuk timur belum juga kulihat cahaya seberkas pun.
Aku membisu di teras rumah,
dengan secangkir kopi hangat bikinan ibu,
ditemani kicau burung gereja 
yang girang hendak menyambut pagi.
"Pagi itu, Matahariku, 
selalu datang membawa harapan-harapan,"
begitu bisikmu kala itu.

Ingatkah kau di suatu pagi, 
ketika aku bilang aku membenci matahari,
ketika aku menyalahkan sebuah kehilangan,
ketika aku lebih memilih bercengkerama dengan senja?
Matahari tak lagi terlihat.
Di mana harapan yang katamu itu ikut tenggelam
ditelan gulita?

Ingatkah kau di suatu pagi yang gigil?
Kau mulai memanggilku dengan sebutan manis -- Matahariku,
semanis gula-gula yang kau harapkan kedatangannya,
semanis aku, katamu.

"Aku benci kau memanggilku Matahari, 
panggil aku senja.
Bagaimana bisa aku menemuimu, 
jika kamu ingin menjadi senja,
sedangkan aku adalah pagi?"
Dialog pagi itu berputar lagi di kepalaku

"Percayalah, Sayang, 
pagi itu selalu datang dengan membawa harapan,"
bisik ibu sambil mengangat cangkir kopiyang kosong,
sekosong dadaku,
sebelum aku
mengenal pagi -- mengenal kamu.

dialog dini hari

selalu ada rahasia yang kita temukan
pada jalanan pukul empat pagi
ketika cakrawala belum juga bertandang
ketika matahari belum juga menyapa
oh, iya, kamu tak perlu pendingin di kendaraanmu
kamu sudah menggigil

aku menikmati jalanan pukul empat pagi
di mana hiruk pikuk kendaraan belum terasa
enam puluh kilometer per jam
kuinjak gas dengan pasti
"jangan ngebut, ibu takut"
ibu menepuk bahuku pelan

pasukan kuning sudah mulai menyapu jalanan
"jalanan disapu, kapan selesainya, bu?"tanyaku pada ibu
"kuliahmu, kapan selesainya? apa yang kau tunggu?" ibu menusukku perlahan
                            dengan kata-katanya
"apa yang kau lakukan pukul empat pagi biasanya?"
aku tertidur pulas, adzan berkumandang, aku bangun, lalu tertidur lagi
                             kata-kata ibu menjelma bara tiba-tiba

sayur-mayur yang diangkut di atas pick up mengejekku
"sudah terjaga? mau jadi anak berbakti? yakin?"

"oh ya, apa kabar hati?"
traffic light yang masih kuning berkedip-kedip menyeringai
oh, lebih tepatnya tertawa melirikku

aku mengambil air wudhu
pagi ini serasa gerah
                            semua kata berubah bara, tiba-tiba

Terminal Bungurasih, Sidoarjo, 2013

puisi religius

puisi, terkadang bisa religius juga 
menjawab kumandang adzan 
mengamini doa-doa baik
ikut tadarus sehabis taraweh

puisi, terkadang bisa religius juga
bersedekah banyak banyak
berzakat di bulan ramadhan
mulai menabung untuk ONH

puisi, di mana religiusnya?
di setiap pilihan diksi dan rimanya
di setiap pilihan kata-kata yang di rangakai
atau
di setiap bait-bait yang tak terduga?

jika kamu menjadi puisi, puisi seperti apa kamu?
aku berdoa pada Tuhan, 
jika aku dilahirkan menjadi puisi, 
aku ingin menjadi
puisi syukur, yang banyak mengucap alhamdulillah
yang tak banyak mengeluh
puisi yang bijak
puisi syukur

Surabaya, 2013
#ngabubuwrite