1.
sudah kucium gelagat rembulan
rupa-rupanya ia ingin cepat-cepat tertidur
namun tidak dengan mata kita
dua pasang milik kita terbuka lebar
tak ada kantuk yang singgah, bahkan sejenak
2.
satu dua tiga empat lima
kita mulai berhitung
sejak kapan kita saling mengenal hati
masing-masing yang dulu adalah asing
tik tok tik tok tik tok
bahkan detak jam pun tak lagi terdengar
mereka tenggelam oleh beberapa celotehan
dari bibir kita masing-masing
3.
kotak bersuara di hadapan kita masih saja berceloteh
namun mata kita tak lagi hirau padanya
mata kita saling memuja
percakapan kita sudah tak ada lagi buntutnya
terurai berai hingga ratusan kilometer
4.
tik tok tik tok tik tok
tatap kita mendongak pada dentum jam yang besar
di sisi kanan kami
pukul satu lebih dua puluh lima
tak juga kita mengantuk
pukul satu lebih dua puluh lima
tanpa kantuk
2012
pelesir mimpi
: adimas immanuel
aku mencintaimu, adimas. seperti rangkaian sajak indah yang dibagikan di sosial media oleh para pecinta kata lalu di retweet oleh followersnya.
aku mencintaimu, adimas. dan aku tak percaya akan teori dua buah lingkaran yang bersisian namun tak beririsan katamu. semua hanya tentang jarak.
aku mencintaimu, adimas. lalu aku akan menjadi penghidup cinta yang katamu mati oleh wanita sebelum aku. cinta matimu, katamu.
aku mencintaimu, adimas. tak usah kau merepotkan diri atas kenangan yang ingin merdeka. mereka itu urusanku. kamu, merebahlah pada pelukku.
aku mencintaimu, adimas. laut dan hutan yang menari di surga pasir putih dadaku katamu sudah kukenali, dan itu berwujud kamu.
aku mencintaimu, adimas. ingatatan-ingatan yang bertamasya di antara bayang-bayang trauma dan traoma pada benakku itu, ternyata serupa kamu.
aku mencintaimu, adimas. lebih dini dari pagi hari, lebih larut dari malam hari, dan lebih indah dari senja hari.
aku sudah mempelesir mimpi karenamu. semua hal di sana memuja kamu, mengucap namamu, dan berwujud kamu.
surabaya-semarang, 2012
aku mencintaimu karena sajak-sajak yang kau ukir.
senyala api
mati sebuah pertaruhan
egoisme tersingkirkan
nada-nada kebebasan terdendang
ragu didustakan begitu saja
benak terukir hanya nama tuhan
rasa tak sudi dijajah pun alasan
harga diri mereka tak ada nilainya
terlalu berharga untuk dinominalkan
sebongkah emas pun tak cukup
anak-anak menangis merintih
tak jua membuat langkah menjadi tertatih
semangat senyala api
merah merona warnanya
sungguh patut kita hargai
bukan dengan emas berlian, kawan
namun patut kita hargai
dengan menanam semangat pada diri masing-masing
surabaya, 10 nopember 2012
untuk pahalawan-pahlawan dengan semangat senyala api. tularkan semangat itu, pada kami kawula muda, wahai pahlawan.
egoisme tersingkirkan
nada-nada kebebasan terdendang
ragu didustakan begitu saja
benak terukir hanya nama tuhan
rasa tak sudi dijajah pun alasan
harga diri mereka tak ada nilainya
terlalu berharga untuk dinominalkan
sebongkah emas pun tak cukup
anak-anak menangis merintih
tak jua membuat langkah menjadi tertatih
semangat senyala api
merah merona warnanya
sungguh patut kita hargai
bukan dengan emas berlian, kawan
namun patut kita hargai
dengan menanam semangat pada diri masing-masing
surabaya, 10 nopember 2012
untuk pahalawan-pahlawan dengan semangat senyala api. tularkan semangat itu, pada kami kawula muda, wahai pahlawan.
Langganan:
Postingan (Atom)