Kuharap Rindu Bisa Bunuh Diri
Berkat Jasamu
Aku berjalan menyusuri jalanan tak seberapa lebar di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota besar macam Surabaya. Di kiriku terhempas dataran hijau berupa sawah ditanami padi yang masih belia, nun jauh di sana sebuah gunung menjulang dipayungi awan malu-malu. Di kananku mengalirlah air dengan tenangnya dari sungai kecil yang masih jernih.
Di sungai itulah aku dulu pernah bermain ketika masa kanak menangkap yuyu membasahi kaki atau sekadar bermain air dengan kawan. Aku juga masih ingat sawah hijau itu pernah kupakai bermain mengotori kakiku sebelum akhirnya aku menceburkan diri di sungai.
Peristiwa menyenangkan masa kanak yang bermain di kepalaku berhenti ketika melewati sebuah sekolah dasar yang harusnya tak asing buatku, di situlah aku pernah menimba ilmu selama enam tahun. Badanku masih kecil kala itu, rambutku masih cepak dan bajuku masih putih-merah. Dimana aku masih begitu merasakan arti guru sebenarnya, digugu dan ditiru.
Surat ini aku tujukan kepada seorang guru bahasa Indonesiaku ketika SD, bapak Astamun. Berkat beliaulah aku jadi gemar sekali menulis dan membaca. Membaca apa saja. Aku masih ingat sekali ketika beliau mendorongku mengikuti lomba story telling dan resensi buku hingga berhasil menjadi juara. Beliau juga yang mengajakku membaca puisi dekat dengan alam, bukan di dalam kelas.
Terima kasih, Pak. Semoga panjang umurmu dan sehat selalu.
Paiton, Probolinggo, 2014.
Mengapa Harus Kamu?
Semesta (kembali) menamparku sore ini, bahwa kebahagiaan tak melulu perkara aku berhasil memiliki (si)apa yang kita cintai. namun terlebih pada kita yang mampu membahagiakan sekitar. Angin sore ini yang berhasil menelisik masuk melewati kerudungku membisikkan kabar bahagia tentangmu, aku turut bahagia tentu saja. sayangnya, aku tak bisa ikut merayakan kebahagiaan denganmu.
Aku mungkin satu-satunya yang tak pernah mendapat balasan darimu, bukan hanya perasaan namun juga sapaan-sapaan yang kulempar dengan diikuti senyum semanis mungkin yang aku bisa bahkan tak jarang hanya sebatas sebagai salam yang bertepuk sebelah tangan.
Aku sempat menjadi perempuan yang paling khawatir mendengar kau sakit. Aku juga sempat menjadi perempuan yang selalu ingin menyemangati setiap langkah baik yang akan kau ambil. Sayangnya, selain semesta, hatimu tak pernah merestuinya.
Hingga sebuah malam dimana aku mendapati mata berbinar itu (kembali) menyadari kehadiranku, aku menegaskan diri untuk tetap bertahan pada sosok elokmu. Waktu berkata lain, nyatanya malam ialah hari terakhir kau mengijinkanku mengagumimu. Kau memintaku berhenti dan menyerah. Aku menurut.
Tapi aku masih ingat terakhir kali kita bertemu dan kau sengaja duduk di sampingku mengharap aku kembali menyapamu dengan ceria dan senyum terkembang. Maaf, dua hal itu tak akan lagi bisa kaudapatkan.
Aku mencintaimu, namun aku membenci diriku.
Mengapa harus kamu?
Surabaya 2014.