Our Own Pretty Ways - First Aid Kit

Kalau saya ibaratkan tempat menulis saya ini adalah rumah, mungkin ini adalah satu-satunya rumah yang jarang sekali saya singgahi. Lalu saya tertawa melihat judul blog ini; Rumah Singgah. Sebab mungkin namanya rumah singgah maka saya hanya singgah sebentar-sebentar saja di sini dan tak pernah terbesit pikiran untuk menetap. Berbeda dengan dadamu yang misteri itu, aku sudah punya banyak rencana tentang kepindahanku dari dada yang lama untuk menetap di sana--selamanya.

Sengaja siang ini, di tengah kesibukan yang menyebalkan di atas tumpukan kertas dan di depan komputer jinjing merah jambu, saya membuka laman ini dan menulis beberapa. Saya memang gemar menulis, sejak saya masih berseragam putih-merah hingga akhirnya saya marah dengan diri saya sendiri dan memutuskan untuk berhenti menulis. Namun ternyata saya salah, menulis itu sudah seperti sebagian dari jiwa saya. Menulis itu menyembuhkan. Menulis itu menyembuhkan, sama rasanya seperti ketika saya kembali bertemu dan melihatmu setelah waktu yang lama. Saya sembuh.

Siang ini saya memutuskan mengganti titel dari blog yang usang ini dari rumah singgah menjadi "Our Own Pretty Ways", kalimat ini saya dapat dari sebuah judul lagu milik First Aid Kit dalam albumnya yang berjudul  The Big Black and the Blue yang dirilis tahun 2010. Lagu ini menyadarkan saya bahwa semua orang dapat berubah dengan caranya masing-masing. Dengan cara yang manis menurut masing-masing. Begitu pula dengan saya, juga denganmu.


Let's take this for what it is
You tell me you have changed
Well we all change in our own ways
In our own pretty ways

It all comes down to this
I'm an ocean, you're the rain
The ice is melting fast
But you're not pulling down the brakes


Tetaplah menjadi hujan dan aku akan tetap menjadi lautan, tempat semua air bermuara. Termasuk air hujan. 

Tetaplah menjadi hujan dan aku akan tetap menjadi lautan, yang selalu menguap hingga kembali menjadi kamu; menjadi hujan.

Surabaya, 2014.

kota ini tua

Kami pernah memutuskan untuk menjauh
pergi  dari kota tua ini,
menghindari riuh jalanan pukul enam petang
dari bocah penjual telur puyuh dengan mata kanan
yang habis dioperasi

Namun kami tak pernah berhasil
recehan di mesin anjungan tunai mandiri kami mulai mengidap
penyakit ketergantungan akan kota ini
status sosial menjadi alasannya
hingga kami tak tahu cara membahagiakan diri sendiri

kota ini tua, ratusan tahun usianya
kota ini renta, sudah tersengal-sengal napasnya
namun di kota ini aku pertama kali mengenal ibu
pertama kali digendong ayah
pertama kali mengenalmu

Surabaya, 2014

Selamat ulang tahun kota Surabaya

Flashback

Aku menggenggam kertas persegi panjang di tanganku dengan erat, aku berhenti membaca bahkan sebelum aku memutuskan untuk membaca. Aku menekan tombol kunci ponselku dan memandangi sebuah foto yang melatarbelakangi ponselku. Sudah hampir dua tahun aku tak menggantinya atau sekadar berniat untuk menggantinya. Aku seorang fotografer, namun aku tak pandai mengambil gambar diri sendiri lewat ponsel sendiri.

Gambar itu diambil sepulang aku kuliah dan dia sedang merengek ingin ditraktir di sebuah restoran favorit kami yang tak jauh dari kampusnya. Aku membukakan pintu mobil di sebelah kiriku, tentu saja aku harus keluar lebih dulu dari mobil. Tersenyum kepadanya dan mempersilakan dia masuk. Perempuan itu mencium pipiku sebelum masuk, pipiku tiba-tiba terasa hangat. Aku yakin dia sedang sangat lapar, dia memesan satu porsi steak, satu porsi kentang goreng dan satu milkshake rasa cokelat. Aku hanya memesan spaghetti dan kopi. Apa pun makananku, minumanku adalah kopi, entah dingin atau panas.

Perempuan itu suka sekali bercerita, tentang apa yang barusan dialami padaku. Tak pernah menyembunyikan satu hal apa pu, itu mengapa hubungan kami bisa seawet itu. Andai aku mampu membekukan waktu, akan kubingkai senyumnya yang sungguh manis siang itu, rambutnya yang hanya sebatas bahu itu dihiasi dengan bando berwarna cokelat tua, bibirnya yang merah muda itu membuatku tak bisa menahan untuk tak mengambil gambarnya.

"Kok cuma aku yang difoto sih?"

"Terus?"

"Kita foto berdua. Sini."

Dia mengambil kameraku dan menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan padaku untuk duduk di sampingnya. Aku menurut. Dia meletekkan tangan kirinya di bahu kananku, tersenyum dan berkata, "Cheeseeeee.."

Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku.

Hai, sudah terima undangan dariku, bukan? Jangan lupa datang, ya. Bawa juga pacar barumu, kenalkan aku padanya.

Surabaya 2014.