Kami pernah memutuskan untuk menjauh
pergi dari kota tua ini,
menghindari riuh jalanan pukul enam petang
dari bocah penjual telur puyuh dengan mata kanan
yang habis dioperasi
Namun kami tak pernah berhasil
recehan di mesin anjungan tunai mandiri kami mulai mengidap
penyakit ketergantungan akan kota ini
status sosial menjadi alasannya
hingga kami tak tahu cara membahagiakan diri sendiri
kota ini tua, ratusan tahun usianya
kota ini renta, sudah tersengal-sengal napasnya
namun di kota ini aku pertama kali mengenal ibu
pertama kali digendong ayah
pertama kali mengenalmu
Surabaya, 2014
Selamat ulang tahun kota Surabaya
Flashback
Aku menggenggam kertas persegi panjang di tanganku dengan erat, aku berhenti membaca bahkan sebelum aku memutuskan untuk membaca. Aku menekan tombol kunci ponselku dan memandangi sebuah foto yang melatarbelakangi ponselku. Sudah hampir dua tahun aku tak menggantinya atau sekadar berniat untuk menggantinya. Aku seorang fotografer, namun aku tak pandai mengambil gambar diri sendiri lewat ponsel sendiri.
Gambar itu diambil sepulang aku kuliah dan dia sedang merengek ingin ditraktir di sebuah restoran favorit kami yang tak jauh dari kampusnya. Aku membukakan pintu mobil di sebelah kiriku, tentu saja aku harus keluar lebih dulu dari mobil. Tersenyum kepadanya dan mempersilakan dia masuk. Perempuan itu mencium pipiku sebelum masuk, pipiku tiba-tiba terasa hangat. Aku yakin dia sedang sangat lapar, dia memesan satu porsi steak, satu porsi kentang goreng dan satu milkshake rasa cokelat. Aku hanya memesan spaghetti dan kopi. Apa pun makananku, minumanku adalah kopi, entah dingin atau panas.
Perempuan itu suka sekali bercerita, tentang apa yang barusan dialami padaku. Tak pernah menyembunyikan satu hal apa pu, itu mengapa hubungan kami bisa seawet itu. Andai aku mampu membekukan waktu, akan kubingkai senyumnya yang sungguh manis siang itu, rambutnya yang hanya sebatas bahu itu dihiasi dengan bando berwarna cokelat tua, bibirnya yang merah muda itu membuatku tak bisa menahan untuk tak mengambil gambarnya.
"Kok cuma aku yang difoto sih?"
"Terus?"
"Kita foto berdua. Sini."
Dia mengambil kameraku dan menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan padaku untuk duduk di sampingnya. Aku menurut. Dia meletekkan tangan kirinya di bahu kananku, tersenyum dan berkata, "Cheeseeeee.."
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku.
Hai, sudah terima undangan dariku, bukan? Jangan lupa datang, ya. Bawa juga pacar barumu, kenalkan aku padanya.
Surabaya 2014.
Babak Satu Jam
Halte depan kampus, 12.30
Aku menggaruk kepalaku yang tak sedang gatal dengan tangan kiri, sedang tangan kananku memainkan botol kaca minuman teh dalam botol yang sudah hampir habis. Perempuan itu masih saja menangis di sampingku, minumannya bahkan tak disentuhnya sama sekali. Aku tak percaya, perempuan yang kukenal hampir tiga tahun masa aku menjadi mahasiswa dan kukenal sebagai perempuan yang super tangguh itu matanya pecah dan pipinya banjir di hadapanku. Oh, tidak, dia menangis tanpa mengeluarkan sedikitpun isakan. Hanya air mata mengalir tak henti menghangatkan pipinya.
Aku menggaruk kepalaku yang tak sedang gatal dengan tangan kiri, sedang tangan kananku memainkan botol kaca minuman teh dalam botol yang sudah hampir habis. Perempuan itu masih saja menangis di sampingku, minumannya bahkan tak disentuhnya sama sekali. Aku tak percaya, perempuan yang kukenal hampir tiga tahun masa aku menjadi mahasiswa dan kukenal sebagai perempuan yang super tangguh itu matanya pecah dan pipinya banjir di hadapanku. Oh, tidak, dia menangis tanpa mengeluarkan sedikitpun isakan. Hanya air mata mengalir tak henti menghangatkan pipinya.
Aku melirik ke arah kiri, sejenak. Matanya menerawang entah ke mana. Kulihat tangannya sedikit gemetar sedang kakinya enggan untuk diam. Ibu kota sedang panas-panasnya, sama seperti isi dadanya sekarang. Kurasa. Dia belum bercerita banyak, bibirnya kutaksir sedang kelu. Bagaimana tidak, dia mengirimiku pesan singkat untuk bertemu di depan kampus. Belum juga mengeluarkan satu kata pun dia sudah memelukku sambil menangis. Sebagai seorang mahasiswa merangkap wartawan di sebuah majalah kecil di kota ini, aku merasa sangat bodoh karena kehilangan kata-kata.
"Yakin tak mau bercerita?"aku mengawali percakapan.
"Kami sudah tak ada apa-apa lagi."ujarnya, perlahan.
"Kami? Siapa maksudmu?"
"Dia memutuskan hubungan kami."
Hening. Tak ada yang berbicara.
"Aku ada kuliah setengah jam lagi. Aku sudah membolos dua kali. Kutunggu kau di tempat biasa nanti malam selepas maghrib. Kamu harus kuat, jaga dirimu baik-baik."
Aku meletakkan botol minuman kosong itu pada tempatnya, membayar keduanya, menepuk bahunya lembut, berpamitan pada pemilik kios dan pergi menuju kelas. Aku hanya seorang mahasiswi semester enam yang sedang tak menjalin hubungan dengan siapa-siapa, sedang tak jatuh cinta dengan siapa-siapa dan sedang tak punya masalah apa-apa selain deadline dari kantor.
Kantin, 13.25
"Bengong aja, lu. Kesambet nanti."seseorang tiba-tiba duduk di sampingku. Siang ini dosen sedang tak ada, beberapa kawan sudah pulang dan sisanya pergi hangout entah ke mana. Sedangkan aku memilih duduk di kantin dengan segelas jus alpukat yang tinggal seperempat.
"Ngapain kamu di sini?
"Aku sengaja cari kamu seharian. Tadi pagi kulihat kamu masuk ke dalam kelas, lalu setelah itu aku tak melihat kamu lagi. Aku lapar, makanya aku ke sini dan tak sengaja melihat kamu. Mungkin kita berjodoh."
Aku tak menyahut. Berjodoh? Yang benar saja, dia pacar sahabatku. Laki-laki ini sedang tak waras rupanya. Mungkin pengaruh cuaca yang sedang panas-panasnya.
"Aku punya tiket konser Tulus. Dua buah."
"Lalu?"
"Ikutlah denganku."
"Apa kabar dengan..."
"Kami sudah tak ada hubungan apa-apa."
Aku membenarkan letak dudukku. Aku baru saja teringat malam nanti punya rencana ke toko kaset untuk membeli CD Tulus keluaran yang baru. Tiba-tiba laki-laki di sampingku ini menawariku untuk menonton konser Tulus bersama. Kebetulan yang aneh.
"Oke, sekarang aku tahu mengapa siang tadi dia datang ke aku sambil menangis. Kau apakan dia?"
"Pertanyaanmu salah."
"Mana ada pertanyaan salah?"
"Harusnya kau bertanya, apa yang sudah dia perbuat denganku?"
"Kamu engga waras hari ini. Sungguh."
"Aku lelah memaafkan kesalahan yang sama berulang-ulang."
"Sejujurnya, aku sungguh tak ingin ikut campur urusan kalian sedikit pun. Tapi aku akan sangat marah jika seseorang berani menyakiti sahabatku sendiri."
"Kamu tak perlu dengar dari aku, dengarkan saja jika dia bercerita nanti. Namun yang jelas, aku lelah memaafkan kesalahan yang sama berulang-ulang."
"Kalau begitu mungkin itu memang sifat atau kebiasaan dia. Belajarlah menerima."
"Aku lebih tertarik dengan perempuan macam kamu."
"Macam aku? Tidak. Aku bukan pagar yang doyan makan tanaman."
"Aku tahu posisi kita, tapi setidaknya, aku sudah mengatakan apa yang aku rasakan."
Surabaya, 2014
Kantin, 13.25
"Bengong aja, lu. Kesambet nanti."seseorang tiba-tiba duduk di sampingku. Siang ini dosen sedang tak ada, beberapa kawan sudah pulang dan sisanya pergi hangout entah ke mana. Sedangkan aku memilih duduk di kantin dengan segelas jus alpukat yang tinggal seperempat.
"Ngapain kamu di sini?
"Aku sengaja cari kamu seharian. Tadi pagi kulihat kamu masuk ke dalam kelas, lalu setelah itu aku tak melihat kamu lagi. Aku lapar, makanya aku ke sini dan tak sengaja melihat kamu. Mungkin kita berjodoh."
Aku tak menyahut. Berjodoh? Yang benar saja, dia pacar sahabatku. Laki-laki ini sedang tak waras rupanya. Mungkin pengaruh cuaca yang sedang panas-panasnya.
"Aku punya tiket konser Tulus. Dua buah."
"Lalu?"
"Ikutlah denganku."
"Apa kabar dengan..."
"Kami sudah tak ada hubungan apa-apa."
Aku membenarkan letak dudukku. Aku baru saja teringat malam nanti punya rencana ke toko kaset untuk membeli CD Tulus keluaran yang baru. Tiba-tiba laki-laki di sampingku ini menawariku untuk menonton konser Tulus bersama. Kebetulan yang aneh.
"Oke, sekarang aku tahu mengapa siang tadi dia datang ke aku sambil menangis. Kau apakan dia?"
"Pertanyaanmu salah."
"Mana ada pertanyaan salah?"
"Harusnya kau bertanya, apa yang sudah dia perbuat denganku?"
"Kamu engga waras hari ini. Sungguh."
"Aku lelah memaafkan kesalahan yang sama berulang-ulang."
"Sejujurnya, aku sungguh tak ingin ikut campur urusan kalian sedikit pun. Tapi aku akan sangat marah jika seseorang berani menyakiti sahabatku sendiri."
"Kamu tak perlu dengar dari aku, dengarkan saja jika dia bercerita nanti. Namun yang jelas, aku lelah memaafkan kesalahan yang sama berulang-ulang."
"Kalau begitu mungkin itu memang sifat atau kebiasaan dia. Belajarlah menerima."
"Aku lebih tertarik dengan perempuan macam kamu."
"Macam aku? Tidak. Aku bukan pagar yang doyan makan tanaman."
"Aku tahu posisi kita, tapi setidaknya, aku sudah mengatakan apa yang aku rasakan."
Surabaya, 2014
Langganan:
Postingan (Atom)