Aku yang Tak Pernah Mendapat Tempat di Kepalamu

Teruntuk aku yang tak pernah mendapat tempat di kepalamu, berkali-kali kusibukkan hariku untuk membaca buku yang menarik di perpustakaan. Namun, baru kubaca judulnya saja yang mampu kueja hanya namamu. Aku sedang memaksa kepalaku membaca sebuah buku tentang sepasang kekasih yang keduanya sedang sakit keras, namun tidak pada hatinya. Hatinya mampu untuk saling mencintai dengan sempurna dari keterbatasan.

Teruntuk aku yang tak pernah mendapat tempat di kepalamu, yang tengah diprotes beberapa pohon trembesi di depan rumahmu--saksi ciuman-ciumanmu dengan yang sedang menggandeng tanganmu erat--untuk segera memberi hatiku pekerjaan. Dia terlalu lama menjadi pengangguran, katanya. Tahu apa pohon soal cinta? Oh, setidaknya dia mengajariku bahwa semakin tinggi kita semakin kencang angin yang menerpa. Rupanya aku sedang diuji agar segera memperoleh kelayakan.

Teruntuk aku yang tak pernah mendapat tempat di kepalamu, rupanya sudah terlalu lama aku menjelma jalan berlubang di komplek perumahanmu, yang selalu saja kauhindari dengan dalih takut merusak ban mobilmu yang mahal itu. Aku mungkin tak pandai berhitung seberapa banyak waktuku terbuang hanya untuk menunggu kau berhenti abai, meski kutahu aku tak akan pernah berhasil.

Inilah aku yang tak pernah mendapat tempat di kepalamu, yang mulai hari ini memutuskan untuk berhenti melayangkan protes.

Surabaya, 2014

Aku Sayang Kalian, Cuk!

Kemarin, kita bisa saja mendebatkan tentang sajak siapa yang paling menyentuh di antara kita atau kata mana yang tak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun, tiba-tiba hari ini kita bisa saling tukar lirik lagu yang sedang kita dengarkan di kamar masing-masing sambil menunggu kantuk di antara malam yang kian memekat. Betapa kita tak pernah kehabisan cara untuk tetap merasa dekat meski jarak sedang melerai.

Pagi tadi, dengan kantuk yang masih menggantung dan membuat kantung mata terlihat berat di saat beberapa yang lain lebih memilih menikahi kasur masing-masing, kita lebih memutuskan untuk mempertemukan sauh dan mengumbar peluk di sudut taman kota mendengar celoteh bocah-bocah jalanan membaca puisi. Betapa aku yang konon gemar berceloteh tiba-tiba kehilangan kata-kataku.

Aku tak pernah lupa kapan pertama kali bertemu dengan masing-masing dari kalian. Ada yang bertemu di depan cangkir kopi bahkan beberapa dipertemukan di tempat yang tak terduga.

Jika mereka bertanya seperti apa puisi, jawabanku adalah kalian. Sebentar, biar aku jelaskan sedikit puisi macam apa kalian. Puisi cintakah? Puisi perjuangankah?

Kalian adalah apa-apa yang tak pernah bosan menyesaki pikiranku, mengukir senyum di bibirku, mencipta gelak tawa di hariku atau membuat lidahku tak berhenti berdecak kagum. Dari kalian, aku yang hampir mati hatinya ini kembali merasakan semenarik apa rasa rindu yang diciptakan Tuhan atau sehangat apa sebuah pelukan yang diciptakan dari dua tubuh yang saling mendekap.

Aku tak pandai menulis surat cinta, kawan. Itu mengapa aku memutuskan menulis racauan untuk kalian. Jangan pernah ragukan sesayang apa aku pada kalian, jangan pernah tanyakan berapa kali aku memikirkan kalian dalam sehari atau mengapa aku tak segan menjatuhkan hatiku pada kalian. Aku kehilangan tajiku akan tiga pertanyaan barusan. Seorang seniman pernah berkata, bahwa mencintai tak butuh alasan.

Tetaplah memenuhi semesta ini dengan sajak-sajak kalian, tetaplah menulis yang kepalamu pikirkan dan hatimu rasakan untuk meninggalkan jejak.

Surabaya, 2014.
Untuk kawan-kawan keren di @kotajancuk.

Segeralah Mencari Jodoh

Saya sedang memandang beberapa foto yang tercetak di benda kotak canggih di tanganku. Masih terlalu pagi, jam dinding di kamarku yang telah gelap menunjukkan pukul tiga dini hari dan kantuk masih enggan bertandang padaku. Aku rindu kamu, aku rindu kebersamaan denganmu dan dua orang sahabat kita yang lain semasa kuliah. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan kepadamu, salah duanya adalah ucapan maaf dan terima kasih. Maaf, karena aku belum menjadi kawan yang baik buatmu. Aku sadar, bahwa kawan yang baik ialah yang tak pernah absen menemani jika sedang dibutuhkan. Namun aku tidak. Tapi kau harus tahu, bahwa aku punya doa yang tak pernah putus aku panjatkan untukmu, untuk kita. Semoga segala urusan kita selalu mendapat kemudahan dari pemilik semesta. Terima kasih, karena kau mau berteman dengan perempuan macam sepertiku. 

Selamat atas gelar Sarjana Akuntansi yang kini melekat di belakang namamu. Pergunakanlah dengan baik, kalau kau  mau, kau bisa mencantumkan gelar cantik itu di undangan pernikahanmu nantinya. Doaku setelah aku memelukmu siang itu, selepas universitas memberimu gelar ialah, semoga peruntungan senantiasa merengkuhmu. Jangan khawatirkan aku, dalam waktu dekat ini aku akan menyusulmu, aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji mendoakan aku. Doamu sangatlah berarti, kawan.

Ini bukan akhir dari segalanya, ini adalah permulaan. Bahwa sesungguhnya kampus ialah kolam tempat kita belajar berenang. Kini kau telah pandai berenang dan saatnya mengarungi lautan. Jangan pernah tinggalkan sembahyang, jangan pernah absen berdoa dan senantiasa bersyukur. 

Perkara jodoh, jangan khawatir, Jodoh tak akan tertukar. Namun kau juga harus berusaha mencarinya. Segeralah mencari jodoh! Semoga cita-cita kita tercapai dan segera dipertemukan dengan jodoh yang baik. Catat kata-kata ini, peremuan baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula.

untuk sahabatku, @estisuhar

Surabaya, 2014.