delapan tanda tanya

aku tahu aku tersesat jika sekali saja kulangkahkan kakiku menjauhimu

namun mungkin akan lebih salah lagi jika aku tetap tinggal sedang kau menyuruhku pergi

karena kau mengingatkan kita lebih awal agar tak saling terjatuh. pun tak saling melukai. itu pertanda cinta, bukan ?

dengar! itu masa lalu milikmu berteriak-teriak ingin direngkuh. sambutlah! itu yang kau mau, bukan ?

lalu atas dasar apa kau menghentak rasa yg tercipta pada dadamu semenjak bertemunya dua tatap kita siang itu ?

dan atas alasan apa kau menyuruhku berhenti atas langkah yang telah terlanjur kutapaki ?

apa mengenai masa lalu yg bergelantung tepat empat koma lima senti di dahimu yg membayangi rasa yakin dan mencipta ragumu, betul begitu ?

lalu apa arti dari bahwa masa lalu bukan untuk didatangi lagi tapi dipetik buah ajarnya yg sempat kau lontarkan, apakah kau ingat ?

kau bilang tak perlu kita sebegitu cintanya. tapi kau diikat sebegitu eratnya oleh masa lalu. apa benar bahwa kau hanya terlalu nyaman ?

pemakluman yg dalam itu yg kau harapkan dariku atas setangkup harap yg sempat kau hadiahkan padaku untuk kurengkuh, apa itu yg kau mau ?

aku diombang-ambing sayang, oleh delapan tanda tanya yg sesegera ingin bersua pada jawabnya.

aku tercekat sayang di tengah ruang kosong yang sempat berisi sebuah pengharapan yg ternyata abu-abu, hatiku pun membiru.

aku tak butuh tanggung jawab atas perasaan yg terlanjur tercipta. namun, aku butuh penjelasan. tak banyak, hanya delapan tanda tanya.


survey for survive


 kuliah kerja nyata, apa yang ada di benak kalian saat mendengar tiga kata itu? jika aku menjadi? salah satu program di sebuah stasiun tv swasta? bisa jadi, aku pun sempat berpikiran ke sana. berkecimpung dengan masyaraka desa yang jauh dari peradaban, jauh dari hiruk pikuk, jauh dari apa yang namanya modern dan hedonitas. 

sembilan belas orang, yang belum pernah saling mengenal sebelumnya dipertemukan disini. desa besah, kecamatan kasiman kabupaten bojonegoro, saya yakin waktu itu belum ada satu pun dari kami yang pernah mendengar nama desa itu. makanya, ketika kami sedang berkumpul untuk rapat, kami menyempatkan membuka google map, yaah.. alat bantu manusia modern seperti kami, apalagi.

keadaan tempat tinggal kami
survey beberapa kelompok pasti lah waktu itu mengharuskan diri untuk survey ke desa masing-masing, pun dengan kamu. survey for survive. setidaknya akan ada gambaran nantinya di sana seperti apa. barang-barang apa saja yang harus dibawa ke sana. dan yang terpenting bagi kami adalah nyaman atau tidak tempat tinggal yang akan kami diami selama kurang lebih 26 hari nantinya.

survey pertama.. ngaret.. seperti biasa rencana kumpul jam 6 pagi akhirnya kita berangkat pukul setengah delapanan kurang lebih. tak banyak yang ikut kala itu, hanya saya, mas @koendhie, mbak @TaaaGieta, @kie7812, dan ketua kami @arisonly. kami belum dekat satu sama lain kala itu, tak banyak yang bisa kita bicarakan selain rencana kita di sana nantinya. setelah agak sedikit nyasar dan dibantu dengan supirnya aris kita akhirnya tiba di rumah bu kades. yaaa.. kepala desanya kala itu seorang wanita yang nanti akan saya jelaskan lebih lanjut di edisi berikutnya. berbekal beberapa pertanyaan dari teman-teman yang di surabaya kami mulai mewawancarai bu kades, pun mengenai tempat tinggal, kami juga sempat mendatangi salah satu sekolah dasar yang ada di sana, sayangnya sekolah sudah bubar kala itu.

survey kedua agak hectic, hampir semua ikut. dengan tiga mobil kami berangkat dengan ngaret seperti biasa. tapi kami menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah tempat makan, sebut saja kaliotik yang akhirnya beberapa dari kami sempat sedikit mengumpat ketika melihat bill, hahaha, maklum kantong mahasiswa dan anak kos. saya sendiri waktu itu habis 19 ribu untuk nasi, telur, kompilasi kuah dan segelas teh hangat. perkiraan saya waktu itu kompilasi kuahlah yang membuat billnya bernilai tinggi, cukup sekian dan terima kasih.

wajah-wajah para survivor

  sampai di sana kami kembali menemui ibu kepala desa dan juga pak bayan, orang desa memanggilnya mbah bayan. jabatannya adalah ketua urusan.. hmmm saya agak nggak mudeng juga beliau urusan apa, tapi waktu itu beliau menjadi penengah antara kami dengan warga. hingga akhirnya urusan mengenai tempat tinggal juga konsumsi beres kala itu juga setelah dengan beberapa negosiasi pastinya. kami juga sempat mendatangi pusat kesehatan hewan untuk urusan proker teman-teman dari kedokteran hewan. survey ditutup dengan makan soto di lamongan yeay!

ruang tengah rumah cewe


pak rete mulai pedekate sama antok kliwir



kisah pak rete yang ditinggal sebatang kara oleh kawan-kawannya
 

Layang-layang di Ujung Senja dan Terminal Asap Rokok yang Memenuhi Kotak Kenangan


oleh: Pratiwi Herdianti Putri

Empat lebih empat puluh lima sore, jarum jam yang sama yang selalu dilihat Nadira ketika disandarkan punggungnya pada ujung tiang halte tempatnya menunggu bemo yang akan mengantarkannya pulang. Nadira akan betah berlama-lama menyandar di sana menanti senja, ketika senja merangkak datang padanya maka akan Nadira sambut dengan peluk hangat di tambah kecupan mesra di pipi senja.
Sudah dua tahun semenjak Nadira mencopot seragam putih-abunya. Ambisinya untuk menjadi penulis mulai memudar semenjak senja jarang sekali menghampirinya di halte tempatnya menunggu. Senja lebih suka menghampiri segerombol anak laki-laki yang asyik bermain layang-layang di ujung gang dekat rumahnya. Kalau Nadira tau senja di sana, Nadira cemburu. Tentu  saja. Makanya Nadira lebih suka menyibukkan diri dengan kuliahnya, dengan organisasinya.
Dulu Nadira suka sekali bermain layang-layang, lalu senja akan menghampirinya. Menemaninya bermain layang-layang. Tapi karena kesibukannya, layang-layang yang Nadira buat dengan Kakek kini terpaksa dibiarkan teronggok di pojokan garasi. Kadang, ketika Nadira mengambil mobilnya di garasi, terdengar rintihan layang-layang yang tengah merindu untuk diterbangkan, merindukan senja terutama. Nadira pun.
“Sudah kubilang aku akan menjemputmu pukul lima di depan kampusmu, apa yang kamu lakukan di sini, Nona Manis?”sebuah suara mengangetkan Nadira.
“Maaf, Mas. Aku lupa.”
“Kepada senja kamu tak pernah lupa.”desah Alex.
Laki-laki itu menggandeng tangan Nadira membawanya menuju parkiran di kampus Nadira, tempatnya memarkirkan motor bebeknya. Tadi Alex sedikit kelimpungan mencari Nadira. Beberapa kawannya bilang, Nadira sudah keluar kelas semenjak pukul setengah lima sore. Ponselnya pun sudah tak aktif. Hingga Alex membayangkan, jika Nadira menjadi sepatu Nadira, kemana Nadira akan melangkahkan kaki sepulang kerja. Benar saja, wanita yang sedang Nadira cintai didapatinya tengah melamun sambil menyandarkan punggungnya pada tiang halte.
Senja mulai merangkak menunjukkan wujudnya yang oranye, Alex memang tak suka senja. Tapi karena Alex akan mendapati Nadira tersenyum lebar-lebar sambil mempererat genggaman tangannya padanya, sedikit demi sedikit Alex suka berterima kasih pada senja lewat surat yang Alex titipkan pada malam. Genggaman tangan itu, menurut Alex, adalah genggaman tangan paling menenangkan di dunia.
Nadira memeluk Alex dari belakang, deru motor bebek Alex tak dihiraukannya. Kehadiran Alex adalah hening dalam riuh yang menghampirinya. Semangat dan harapan Nadira tercipta dari aroma tubuh Alex. Baginya, pelukan itu lebih indah dari sekedar kata-kata aku menyayangimu atau aku membutuhkanmu. Nadira memeluk tubuh lelakinye erat bersamaan dengan deru motor bebek usang yang memecah jalanan ibu kota.
“Besok kamu jadi ke Jakarta, Mas? Satu tahun?”
“Aku kira kamu tak ingat.”
“Mana mungkin aku tak ingat akan perpisahan kecil yang akan terjadi besok, Mas. Pukul berapa kamu pergi?”
“Pukul sembilan pagi. Kalau kamu tak bisa antar, biar Ayah nanti yang mangantarku, Nona Manis.”
“Kok gitu? Aku bisa ijin, Mas. Itu kalau Mas mau.”
“Enggak usah, Nona Manis.”
“Baiklah, Mas. Jangan lupa hubungin aku kalau Mas mau berangkat.”
“Pasti. Malam ini mampirlah ke kosanku sebentar. Bantu mas bersiap.”
“Dengan senang hati.”jawab Nadira sambil mengencangkan pelukannya.
Deru mesin motor bebek, senja yang perlahan mulai hilang, jalanan Kota Surabaya yang mulai macet, punggung yang wangi. Benak Nadira sangat pandai dalam merekam kenangan. Ada sebuah kotak berwarna ungu dalam benak Nadira, isinya kenangan, tak besar ukurannya. Isinya pun hampir penuh. Nadira takut kalau suatu hari kotak itu penuh, Nadira harus menutupnya dan menggantinya dengan baru.

***