The End

weheartit


Entah kenapa pikiran saya suka melayang-layang sendiri. Berpikir tentang masa depan. Berpikir jauh melangkah berdepa-depa dari tempat saya berdiri sekarang ini. Sebut saja mimpi, dan meski pun banyak mimpi yang tak sepenuhnya terwujud, saya sering menyebutnya dengan kesuksesan yang ditangguhkan. Itu artinya ada satu sisi dalam hidup saya yang buruk dan harus segera diperbaiki. Begitulah cara saya menyemangati diri sendiri.

Bukan hanya mimpi menggapai bintang lalu memetiknya. Tapi menjadi penulis dan menjadikan "kamu" sebagai cerita terakhir yang lalu suatu hari akan ada tulisan "lalu hidup berbahagia selamanya" di akhir cerita juga salah satu khayalan saya yang melangkah jauh beberapa depa. Terlalu jauh bukan saya berkhayalnya? Tapi tidak apa-apa seperti yang seorang penulis terkenal tanah air pernah berujar, "hidup itu berawal dari mimpi" benarkan saya jika salah :)

Tapi terkadang mimpi saya bisa salah. 

Tak ada kalimat "lalu hidup berbahagia selamanya."

Hanya ada klimaks, anti klimaks, lalu penulis menulis kata "The End" dengan gusar.

rabu, angka 8, kamu, senja, dan semesta

Pagi-pagi sekali aku membuka mata saat terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca di ruang makan. Rupanya keluargaku tengah sarapan. Aku terjaga dengan keadaan basah. Di pipi juga di sarung bantalku. Ah, rupanya aku pun tak ingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat semalam, ketika aku hendak memejamkan mata, untuk mengistirahatkan tubuhku aku merasakan ada bulir-bulir hangat di pipiku yang setelah kuselidiki bernama pilu. Aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang aku sendiri pun tak tahu apa. Hingga Matahari merayap di jendela kamarku, aku masih tak menemukan jawaban.  Biasanya matahari tersenyum ramah, tapi kali ini dia tak menggubrisku sedikitpun.

Harusnya aku terbangun dengan sunggingan senyum seperti biasanya. Meraih ponsel lalu menekan tombol panggilan cepat 8 dan mengucapkan selamat pagi. Kenapa Angka 8 ? Karena dia tak memiliki ujung. Telusuri saja garisnya, beritahu aku kalau kalian menemukan ujungnya. Aku sudah bertahun-tahun mencarinya tapi tak juga kutemui ujungnya. Anggap saja itu gambaran perasaanku padamu sayang, dia tak berujung, juga bercahaya. Tapi baru saja kau redupkan dengan cara yang tak kumengerti.

Tapi, aku bersyukur sayang, semesta telah menuliskan sebuah cerita untuk kita suatu hari itu. Walau pun ternyata semesta juga telah membuat akhir cerita yang menyakitkan. Mungkin tidak di kamu, tapi di aku. Tengok kalender sayang, ini bulan Februari bukan? Kata orang-orang bulang penuh cinta? Kukira itu semua omong kosong, sayang. Aku kehilangan cintaku di bulan ini. Semesta selalu punya banyak kejutan ya, sayang!

Malas menghujamku sayang, bahkan kulihat semesta juga demikian. Tak kulihat sedikitpun dedaunan bergerak-gerak lincah seperti biasanya. Bahkan kupu-kupu pun yang biasanya bernyanyi diperutku diam tak bergerak. Kupu-kupu di taman juga, mereka tak menampakkan diri satu pun. Kemana mereka, sayang? Belumkah cukup kamu menggores luka ketidaksengajaanmu padaku? Janganlah kau pula ajak semesta untuk menjadi jahat. 

Hari ini, pada waktu senja, kau berjanji untuk menatapku. Semoga bukan kabar buruk lagi, sayang. 

Adakah senja yang indah lagi, buat kita, sayang ?
Berjalan beriringan lalu saling menggenggam jemari ?

Please, Dont Look Back!


Tanpa makna, buat apa lagi kita hidup? Semesta seakan mebisikkan sebuah kalimat di telingaku, sangat dekat, hingga aku dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Jika saja aku punya pemikiran dangkal, hari ini aku sudah memotong pembuluh nadiku atau terjun dari lantai 15. Tapi tidak, aku masih punya pemikiran yang sehat, namun sekarang tak lagi sesederhana dulu. Semuanya rumit. Bahkan ketika pemikiranku berputar ke belakang dua tahun lalu aku sempat terisak, bahkan ketika kasetnya kusut karena harus berputar ratusan kali dalam benakku aku masih tak punya nyali untuk membuangnya. Aku masih terus menatapnya atau bahkan memutarnya kembali berharap semuanya hanya mimpi. Hanya ilusi.

Semuanya seperti terjadi begitu saja, beberapa bulan yang lalu. Ketika aku merasakan ada hal yang aneh pada diri Raka. Hal yang paling suka adalah menganggap matanya yang indah itu adalah sebuah kolam yang membuatku bahagia ketika menyelam ke dalamnya lama-lama. Tapi sudah beberapa hari ini, tak ada lagi kolam di sana. Aku merasakan ada orang lain dalam diri Raka. Kolam itu sepertinya telah mengering, menguap entah kemana. Tapi aku tak berani mempertanyakan lebih lanjut.

Did I tell you you're wonderful?
I miss you yes I do
Did I tell you that I was wrong?
I was wrong
For so long long long

Sebuah lagu wonderful milik Adam Ant mengalir lembut dalam benakku. Aku dulu pernah menganggapmu begitu menakjubkan, tapi ternyata aku sekarang salah. Raka, dulu bukan sekedar empat huruf yang menemani hidupku dua tahun belakangan ini. Dia adalah R, bagaikan Rambo seorang yang selalu sedia melindungiku, bahkan ketika hujan ada untuk memeluk kami sekali pun.

“Hei, lihat. Hujan turun, Ka!”seruku waktu itu. Ketika kami sedang berlibur. Ketika kami sedang menyusuri jalan Braga yang merupakan salah satu maskot serta objek wisata kota Bandung yang merupakan pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda dengan model Eropa yang terkenel sebagai Parijs Van Java. Menawar beberapa oleh-oleh untuk kawan-kawan.

“Baru gerimis. Are you okay, kan? Sudah mulai kerasa dinginnya.”

“I’m fine, darl.”

Tiba-tiba Raka melepas jaketnya lalu menyerahkan padaku, “Wear it, it was cold.”

“How about you? Nanti kamu kedinginan.”

“Doesn’t matter. Kalau kamu merasa hangat, aku juga akan merasa hangat. Kita kembali ke penginapan, yuk.”ajaknya  lalu.

Aku mengikuti kemana langkahnya pergi. Tiba-tiba lidahku kelu, tak dapat mengucap sepatah kata pun. Aku sudah sering melihat di film-film, ketika sang cowok melepas jaketnya yang ia kenakan lalu dipakaikan kepada si cewek ketika dia melihat si cewek kedinginan, tapi kali ini aku benar-benar mengalaminya. Ada rasa aneh yang menyelimuti dadaku, ingin aku memeluknya, lama-lama. Mungkin kamu bukan orang yang mengenakan jaket ke tubuhku, tapi kamu orang yang rela melepas jaketnya untukku dan kedinginan.